Logo Hubungi Kami | Links
DepanTentang KamiMisiArtikelBeritaKalender LiturgiRenungan Mingguan
Renungan


Th.C—Minggu, 23 Mei 2010

Hari Raya Pentakosta

Bac I: Kis 2:1-11

Bac II: Rm 8:8-17

Injil Yoh 14:15-16.23b-26

 

            Berita seputar Gereja Katolik akhir-akhir ini sering muncul di media massa. Sebut saja kasus skandal pedofilia di beberapa tempat di Amerika dan di negara lain. Kita di Indonesia turut merasakan keprihatinan terhadap berita-berita semacam ini. Sebagai umat yang disatukan Allah dalam Gereja Katolik, kita turut merasakan apa yang dirasakan saudara/i kita di negara lain. Inilah tantangan untuk kita semua. Tak jarang muncul juga fenomena di mana umat Katolik merasa terpukul imannya. Orang yang dangkal imannya akan jatuh dalam godaan untuk tidak mau bangkit lagi, menghindar dari tantangan. Pelan-pelan ia tak kuat menahan tantangan yang menyentuh imannya sehingga meninggalkan Gereja. Daripada menahan malu, lebih baik tidak mau mengaku identitas sebagai umat Katolik. Apakah dengan menghindar—secara halus—seperti ini berarti masalah sudah selesai?

            Lepas dari persoalan di atas, mari kita menyimak perayaan hari ini. Perayaan Pentakosta. Perayaan yang dikenal dengan peristiwa khasnya yakni turunnya Roh Kudus di atas para rasul yang sedang berkumpul. Yesus dalam Injil Yohanes menyampaikan wejangan dengan beberapa tema manarik. Pertama, kaitan antara mengasihi Dia dan menuruti perintah-Nya. Kedua, hadirnya Penolong dan Penghibur. Dua kali Yesus mengatakan ”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Rumusan yang sama diulang kembali untuk kedua kalinya ”Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku....” Saya kira ini pernyataan penting untuk para murid pada zaman Yesus dan para murid (pengikut) zaman kini yakni kita, umat Katolik. Kalau dicermati dengan seksama, perintah ini amat menarik. Yang lebih dulu muncul adalah KASIH kemudian konsekuensinya yakni MENURUTI PERINTAH. Kasih menguatkan kita untuk melaksanakan perintah Yesus. Bukan sebaliknya. Kita kadang keliru berpandangan bahwa kita menuruti perintah Yesus supaya masuk surga. Kita berdoa, rajin ke gereja, berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan, rajin berdoa rosario supaya masuk surga. Injil hari ini memutarbalikkan pandangan itu. Kita merasa dikasihi maka kita merayakan kasih itu dalam perbuatan baik dengan sesama, aktif dalam kegiatan menggereja, atau dengan bahasa lain menuruti perintah-Nya. Bagaimana kita menuruti perintah-Nya?

            Tiap pilihan pasti mempunyai risiko. Mau memilih berarti mau menghadapi risiko. Menuruti dan melaksanakan perintah Tuhan berarti siap menghadapi risiko besar. Risiko ini merupakan sebuah tantangan besar. Salah satu tantangan terbesar zaman ini adalah tantangan untuk menghayati iman secara penuh. Fenomena di atas tadi menunjukkan hal ini. Orang Katolik tidak bisa menghadapi tantangan untuk mengaku diri sebagai umat Katolik sehingga ia mengingkarinya bahkan ia tak menjadi Katolik lagi. Sebetulnya kalau kita mau, laksanakan saja, jangan takut. Kita mempunyai Penolong dan Penghibur. Penolong yang menyertai kita selama-lamanya termasuk ketika kita menghadapi tantangan besar seperti tadi. Dalam sebuah buku, saya menemukan kutipan kalimat, “Orang-orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis dalam namanya itu kini hidup dalam lindungan kekuatan yang datang dari atas, dari tempat Yesus kini berada. Itulah Roh Kudus. Kekuatan ini memberi kebijaksanaan, membuat budi wening, dan menuntun orang di jalan yang benar (A Gianto, 2005: 47).” Jika demikian, apalagi yang mesti kita takuit? Tidak ada! Demikian juga dengan penghibur. Kekuatan yang mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan akan mengingatkan kita akan semua yang telah dikatakan. Bagaimana caranya supaya kita bisa menjadi pribadi yang dituntun Roh Kudus?

            Saya kira kita hanya menyiapkan dua hal. Dua hal ini menjadi prasyarat—kalau boleh disebut demikian—yakni keterbukaan dan kerendahan hati. Terbuka dengan Tuhan Yesus. Terbuka dalam artian bahwa kita mau dibimbing oleh-Nya karena kita ini pribadi yang lemah. Pribadi yang masih membutuhkan tuntunan. Dengan demikian kita akan dengan mudah mendengar bisikan Allah, dengan mudah menangkap pesan Yesus lewat Roh Kudus. Kita juga perlu kerendahan hati. Kita tidak perlu meninggikan diri karena Yesus-lah yang paling besar. Seperti kata Yohanes, biarlah saya menjadi kecil dan Dia menjadi besar. Kita tidak perlu bertindak gegabah memutuskan untuk menanggalkan iman kita hanya karena kita lemah di hadapan tantangan. Biarlah Dia yang menguatkan kita untuk menghadapi tantangan itu asalkan kita setia. Semoga terbantu.......

 

21/5/2010

Fr. Gordi Afri, SX

tablebottom
search title
search
Cari Artikel-artikel yang berhubungan dengan Xaverindo
Berita
BANGLADESH
  Polisi bentrok dengan buruh garmen di kawasan industri Ashulia yang mogok karena menuntut kenaikan gaji. Bentrokan hari Sabtu antara polisi dan buruh garmen yang mogok di Bangladesh telah melukai 100 orang lebih.
THAILAND
  Pemerintah mengatakan ketertiban telah pulih di Bangkok setelah penindakan yang menimbulkan korban tewas.
INDIA
  Hakim India menjatuhkan hukuman mati dengan penggantungan bagi seorang Mohammed Ajmal Kasab.
 
bottom
Hubungi Kami | Links
Copyrights (C) 2007. xaverindo.org - Powered by SolisLogic