Berita seputar Gereja Katolik akhir-akhir ini sering muncul di media massa. Sebut saja kasus skandal pedofilia di beberapa tempat di Amerika dan di negara lain. Kita di Indonesia turut merasakan keprihatinan terhadap berita-berita semacam ini. Sebagai umat yang disatukan Allah dalam Gereja Katolik, kita turut merasakan apa yang dirasakan saudara/i kita di negara lain. Inilah tantangan untuk kita semua. Tak jarang muncul juga fenomena di mana umat Katolik merasa terpukul imannya. Orang yang dangkal imannya akan jatuh dalam godaan untuk tidak mau bangkit lagi, menghindar dari tantangan. Pelan-pelan ia tak kuat menahan tantangan yang menyentuh imannya sehingga meninggalkan Gereja. Daripada menahan malu, lebih baik tidak mau mengaku identitas sebagai umat Katolik. Apakah dengan menghindar—secara halus—seperti ini berarti masalah sudah selesai?
Tiap pilihan pasti mempunyai risiko. Mau memilih berarti mau menghadapi risiko. Menuruti dan melaksanakan perintah Tuhan berarti siap menghadapi risiko besar. Risiko ini merupakan sebuah tantangan besar. Salah satu tantangan terbesar zaman ini adalah tantangan untuk menghayati iman secara penuh. Fenomena di atas tadi menunjukkan hal ini. Orang Katolik tidak bisa menghadapi tantangan untuk mengaku diri sebagai umat Katolik sehingga ia mengingkarinya bahkan ia tak menjadi Katolik lagi. Sebetulnya kalau kita mau, laksanakan saja, jangan takut. Kita mempunyai Penolong dan Penghibur. Penolong yang menyertai kita selama-lamanya termasuk ketika kita menghadapi tantangan besar seperti tadi. Dalam sebuah buku, saya menemukan kutipan kalimat, “Orang-orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis dalam namanya itu kini hidup dalam lindungan kekuatan yang datang dari atas, dari tempat Yesus kini berada. Itulah Roh Kudus. Kekuatan ini memberi kebijaksanaan, membuat budi wening, dan menuntun orang di jalan yang benar (A Gianto, 2005: 47).” Jika demikian, apalagi yang mesti kita takuit? Tidak ada! Demikian juga dengan penghibur. Kekuatan yang mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan akan mengingatkan kita akan semua yang telah dikatakan. Bagaimana caranya supaya kita bisa menjadi pribadi yang dituntun Roh Kudus?
Saya kira kita hanya menyiapkan dua hal. Dua hal ini menjadi prasyarat—kalau boleh disebut demikian—yakni keterbukaan dan kerendahan hati. Terbuka dengan Tuhan Yesus. Terbuka dalam artian bahwa kita mau dibimbing oleh-Nya karena kita ini pribadi yang lemah. Pribadi yang masih membutuhkan tuntunan. Dengan demikian kita akan dengan mudah mendengar bisikan Allah, dengan mudah menangkap pesan Yesus lewat Roh Kudus. Kita juga perlu kerendahan hati. Kita tidak perlu meninggikan diri karena Yesus-lah yang paling besar. Seperti kata Yohanes, biarlah saya menjadi kecil dan Dia menjadi besar. Kita tidak perlu bertindak gegabah memutuskan untuk menanggalkan iman kita hanya karena kita lemah di hadapan tantangan. Biarlah Dia yang menguatkan kita untuk menghadapi tantangan itu asalkan kita setia. Semoga terbantu.......