Logo Hubungi Kami | Links
DepanTentang KamiMisiArtikelBeritaKalender LiturgiRenungan Mingguan
Renungan

Th. C – Hari Minggu Paskah Ke V

Minggu, 2 Mei 2010

Bac.I: Kis. 14: 21b-27

Bac.II: Wahyu 21: 1-5a

 Bac. Injil: Yoh. 13:31a-33a.34-35

 

 

Kasih berarti mengganti mata…

            Tanggal 28 Maret yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk mendampingi kelompok KKS [Kerasulan Kitab Suci] Paroki Sta. Odilia-Citra Raya. Dalam rekoleksi tersebut, kami menonton sebuah cuplikan film yang sangat menyentuh hati saya. Begini ceritanya: ada seorang pemuda yang bekerja sebagai fotografer. Ia berkenalan dengan seorang gadis yang bekerja di salon, karena keliru memotret objek. Singkat cerita, mereka akhirnya berpacaran. Lalu sampai suatu ketika tanpa sengaja cairan air raksa yang ada di studio fotografi si pemuda mengenai mata si gadis. Kejadian itu membuat kedua mata si gadis menjadi buta. Pemuda itu paling menyukai sorot mata si gadis yang polos, yang selalu menatapnya dengan berbinar, tanda cinta. Ia ingin kembali melihat sorot mata itu, maka yang ia lakukan adalah dengan mengganti mata si gadis dengan matanya sendiri.

 

            Muncul pertanyaan dalam hati saya; mengapa pemuda itu memutuskan untuk memberikan matanya kepada gadis itu? Padahal mata adalah hal yang paling berharga bagi hidup seorang fotografer. Pengorbanan yang demikian itu tentu tidak hanya didorong oleh rasa belas kasihan atau tanggung jawab semata. Bagi saya itu adalah kasih! Kasih berarti mengganti mata…

            Apa maksudnya? Ketika pemuda itu memberikan matanya kepada si gadis, ia memang mengalami kehilangan organ matanya, tetapi jauh lebih daripada itu, ia menggantinya sendiri dengan mata kasih, mata cinta, mata Allah! Dengan mata itu, ia hanya melihat kebahagiaan orang lain, orang yang ia kasihi, orang yang ia cintai. Pertanyaannya adalah apakah kita—sebagai orang Kristiani yang meyakini kasih sebagai hukum yang paling utama—mampu pula dalam himpitan zaman yang demikian menyesakkan ini, melakukan pengorbanan yang semacam ini?

           

Kasih merupakan suatu pengalaman hidup yang memberi makna bagi kehidupan setiap orang. Oleh karenanya, begitu didambakan oleh setiap insan. Namun, mengapa kerapkali begitu sulit bagi kita untuk benar-benar mencintai dan membiarkan diri untuk dicintai? Untuk semuanya itu, kita sebagai orang Kristiani diundang untuk belajar dari seseorang. Dan Ia adalah Yesus Kristus; orang yang telah menunjukkan kasih yang sedemikian besar dengan mengorbankan diri-Nya  bagi kita.

            Kadangkala dengan semangat kasih kita mengulurkan tangan untuk membantu orang lain atau mengasihi sesama. Tapi apa yang terjadi? Tidak jarang tangan kita terbakar, babak belur atau bahkah patah... karena kasih kita disalah tafsirkan, dicurigai, ditolak atau bahkan disalahgunakan. Dan kita cepat-cepat menariknya kembali, serta mulai hidup dalam sel tempurung diri; yang rasanya aman, namun sebenarnya pengap dan menyesatkan, serta membuat hidup kita menjadi semakin gersang.

            Barangkali pengalaman-pengalaman pahit semacam itulah yang tersimpan dalam ingatan hati kita. Dan pengalaman-pengalaman pahit seperti itulah yang kerapkali membuat kita merasa takut untuk mengasihi dan membiarkan diri kita dikasihi oleh orang lain. Dan barangkali pengalaman-pengalaman pahit seperti itu pulalah yang kerapkali membuat kita mengisolasi diri dan melindungi diri terhadap kesempatan serta kemungkinan untuk disakiti oleh pengalaman mengasihi dan dikasihi orang lain. Bila hal ini benar-benar kita alami dan kita lakukan, betapa mahal akibat yang mesti kita bayar!

            Memang, dalam beberapa hal, mengasihi orang lain dapat mengganggu kepentingan maupun kebebasan pribadi kita. Sebab, mengasihi orang lain selalu mengandung tanggugjawab untuk lebih memperhatikan kebutuhan dan kepentingan orang yang kita kasihi tersebut, daripada kepentingan diri kita sendiri. Betapa sering kita mengasihi orang lain, namun sebenarnya tidak menguntungkan diri kita sendiri. Tetapi mengapa kita mestinya repot-repot mengusahakannya?

 

            Apa sesungguhnya kabar gembira yang ingin disampaikan Kristus kepada kita hari ini? Perintah Baru! ”Aku memberikan Perintah Baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu; demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Di sini Yesus hendak menegaskan kepada kita bahwa kasih merupakan identitas seorang Kristiani, identitas seorang murid Kristus. Sebagai seorang murid, Yesus mengundang kita untuk menjadi transparansi Allah, artinya bagaimana kita berusaha agar kasih mewarnai seluruh hidup kita; karena kemuliaan kita sebagai orang Kristiani terletak pada bagaimana kita saling mengasihi satu sama lain. Semua orang Kristiani dipanggil untuk mengasihi. Karena itu, kita perlu belajar mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi kita. Berani untuk masuk dalam relasi yang akrab dengan-Nya. Menjadi anak Allah dalam persekutuan dengan Kristus berarti menjadi keluarga bagi satu sama lain. Inilah keselamatan yang dimaksudkan Yesus. Jika demikian, sekali lagi kita diundang untuk mulai memperhatikan satu sama lain, memberi diri bagi sesama. Bila hal ini terjadi, keselamatan bisa kita alami sejak sekarang, tidak perlu menanti hingga akhir zaman.

               Injil hari ini, selain memberi kabar gembira bagi kita, juga memberi satu tantangan apakah kita mampu mengasihi orang-orang di sekitar kita yang mengalami kesulitan hidup? Apakah kita secara sadar mau membantu Kristus untuk mewujudkan satu kawanan dengan satu gembala yakni Kristus, dalam lingkungan hidup kita? Pada akhirnya kita dihadapkan pada pilihan, mengasihi seperti Yesus atau sekedar memperhatikan sesama seperti ahli-ahli taurat dan kaum Farisi?

            Minggu yang lalu, kita merayakan minggu panggilan. Kita semua yang hadir di sini telah dipanggil untuk saling mengasihi. Dipanggil sebagai seorang ibu rumah tangga yang setiap pagi menyiapkan makanan bagi suami dan anak-anak. Dipanggil sebagai kepala rumah tangga yang tetap menemani keluarga dalam keadaan suka maupun duka. Dipanggil sebagai bruder, pastor, suster atau biarawan/biarawati, yang tetap setia dalam panggilanNya. Kita semua dipanggil menjadi tangan-tangan Allah yang siap mengasihi. Kita juga diundang untuk saling mendoakan agar kita tetap setia dalam menjalani panggilan kita masing-masing.

 

            Hari ini dengan menyempatkan diri mengikuti perayaan ekaristi ini, kita menyambut undangan Tuhan untuk mau belajar mengasihi seperti Dia. Kisah si fotografer yang menyerahkan matanya pada gadis yang dicintainya pada awal khotbah yang baru kita dengar, menuntun kita untuk menyadari bahwa mengasihi berarti menyerahkan diri bagi orang lain. Semoga...

                                                                       

30/4/2010

Fr. Petrus Tae Kolo, SX

 

tablebottom
search title
search
Cari Artikel-artikel yang berhubungan dengan Xaverindo
Berita
BANGLADESH
  Polisi bentrok dengan buruh garmen di kawasan industri Ashulia yang mogok karena menuntut kenaikan gaji. Bentrokan hari Sabtu antara polisi dan buruh garmen yang mogok di Bangladesh telah melukai 100 orang lebih.
THAILAND
  Pemerintah mengatakan ketertiban telah pulih di Bangkok setelah penindakan yang menimbulkan korban tewas.
INDIA
  Hakim India menjatuhkan hukuman mati dengan penggantungan bagi seorang Mohammed Ajmal Kasab.
 
bottom
Hubungi Kami | Links
Copyrights (C) 2007. xaverindo.org - Powered by SolisLogic