MEMBANGUN VISI KRISTIANI YANG SARAT MAKNA DAN ARTI
Th-C Hari Minggu Prapaskah III
Minggu 7 Maret 2010
Kel. 3:1-8a. 13-15 Mzm. 103:1-2. 3-4. 6-7. 8.11
1Kor. 1-6.10-12. Luk.13:1-9
Pada hakikatnya Kasih Allah itu universal. Kasih dan rahmat Allah bekerja dalam setiap orang dan dalam situasi apapun sesuai dengan rencana-Nya. Kasih Allah tidak hanya bekerja di saat kita sukses atau sedang dalam suasana sukacita. Namun kasih Allah mampu juga bekerja pada saat-saat di mana kita sedang dalam penderitaan, atau di saat kita tertimpa bencana sekalipun karena kasih Allah kepada manusia itu tanpa syarat.Andaikan kita menyadari bahwa kasih Allah itu betul-betul ada dalam diri setiap kita, maka tidak sepantasnya kita menilai atau bahkan sampai menghakimi bahwa sebuah bencana atau musibah merupakan sebuah hukuman dari Allah karena dosa-dosa manusia.
Maka Yesus dengan tegas menolak gagasan atau pandangan bahwa pengalaman buruk, malapetaka, atau kematian yang tak wajar merupakan hukuman dari Allah akibat dosa atau kesalahan manusia itu sendiri. Yesus mau menegaskan bahwa, baik orang-orang Galilea maupun orang-orang Yerusalem yang tertimpa menara itu tidak lebih berdosa dari orang-orang lain. Dengan perkataan lain, Yesus menyerukan agar setiap orang introspeksi diri dan mulai memperbaiki diri sendiri dahulu dan bertobat. Penjelasan ini menarik, dan tentu semua orang setuju betapa perlunya orang bertobat. Namun kita bukan hanya berminat pada seruan bertobat, kita mau tahu Injil hari ini mengajar kita untuk bertobat dari apa dan untuk apa. Untuk itu marilah kita mencoba memahami dengan kunci yang diberikan Lukas sendiri.
Seperti yang dikisahkan dalam Luk. 13:1 bahwa “pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan”.Jawaban Yesus demikian: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk. 13:2-3). Dalam hidup harian kita pun selalu demikian. Kita tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang membawa kabar kepada Yesus itu. kita selalu memandang orang yang menderita atau orang yang terkena masalah, hanya dengan mata telanjang, bahkan hanya dengan sebelah mata kita. Sehingga kita dengan mudah akan akan jatuh pada pandangan negatif tehadap sesama kita yang menderita. Justru hal inilah yang kadang kala membuat visi atau perspektif kita selalu tidak jelas dan terasa hambar, sehingga muncul kecenderungan untuk membenarkan diri dari sesama kita yang terkena musibah. Siapakah yang bisa menjadi hakim bagi kita selain Allah sendiri yang akan menjadi hakim yang adil bagi kita? Atau siapakah di antara kita yang merasa tidak pernah berbuat dosa?
Fakta bahwa kadang kala kita selalu cenderung menilai dan menganggap orang lain sebagai yang salah, bahkan sampai mengatakan mereka pantas mendapatkan itu, karena ulah mereka sendiri. Tidakah kita berpikir bahwa kita telah menerima kasih dari Allah dengan cuma-cuma, maka sepantasnya kita menjadi perpanjangan kasih Tuhan bagi sesama kita yang sedang menderita dengan memberi perhatian, mengulurkan tangan, serta memberi dukungan bagi sesama kita yang sedang menderita. Yesus memandang kematian sebagai hal yang wajar dan biasa. Semoga ini menjadi teladan bagi kita semua bagaimana kita memandang sesuatu di sekitar kita dengan penuh makna yang positif.
Membangun visi iman kristiani yang penuh makna bearti kita diajak untuk selalu berupaya melihat segala sesuatu dan peristiwa di sekitar kita dengan kaca mata iman atau dari sudut pandangan mata Allah. Sehingga kita tidak lagimenempatkan makna kehendak Allah dalam perspektif kehendak diri kita sendiri melainkan Tuhan sendirilah yang melihat sesuai dengan kehendak-Nya. Sehingga apa yang kita lihat, kita rasakan dan kita hidupi adalah kasih yang bersumber dari Allah sendiri.
Oleh karena itu, salah satu makna pertobatan dalam hidup kita adalah rela melepaskan visi atau pandangan duniawi kita yang lama, berani keluar dari keegoisan kita serta berani menerima tawaran baru dari Yesus yakni melihat segala sesuatu yang ada di sekitar kita dengan kaca mata iman atau dengan sudut pandangan mata Allah yang penuh kasih sehingga apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dan apa yang kita hidupi lebih bermakna serta penuh arti dan menjadi berkat bagi hidup kita sendiri dan sesama yang kita jumpai di sekeliling kita.
Satu hal yang patut kita catat dalam perumaan tentang pohon ara adalah bahwa kemurahan hati Tuhan selalu ia tawarkan kepada kita, problemnya apakah kita merespons apa yang Tuhan berikan?Sebagai umat beriman seharusnya kita punya sense, dan terbuka bagi kehendak Tuhan, karena Ia selalu memberikan kita kesempatan untuk berubah, berbenah diri, untuk tumbuh hingga menghasilkan buah yakni berkat bagi kita sendiri dan bagi sesama kita. Dengan demikian sikap pertobatan untuk menghasilkan buah keselamatan dalam kehidupan ini merupakan sebuah harga mati yang masih harus dibayar dan sangat mendesak. Sehingga perjalan rohani kita di dunia ini selalu menghasilkan buah yaitu berkat. Namun perlu diingat juga bahwa semuanya itu butuh perjuangan serta proses yang panjang dan sikap tobat yang terus-menerus, sehingga Allah bisa bekerja dalam diri kita dan kita pun bisa mengasilkan buah.