Logo Hubungi Kami | Links
DepanTentang KamiMisiArtikelBeritaKalender LiturgiRenungan Mingguan
Renungan

 

Th-C Hari Minggu Prapaskah II

Minggu 28 Februari 2010

Kej. 15:5-12.17-18  Mzm. 27:1.7-8.9abc. 13-14

Fil. 3:20-4:1  Luk. 9:28b-36

 

 

            Senang sekali rasanya bisa bertemu lagi dengan saudara-saudari sekalian dalam laman kecil ini, setelah hampir sebulan gak bisa bertemu karena ada sedikit gangguan dengan web Xaverindo kita yang tercinta ini. Semoga perjumpaan kita kali ini bisa membawa sedikit penyegaran rohani… Pada laman ini saya mencoba membagikan permenungan saya tentang kisah ‘menarik’ yang dialami Petrus, Yakobus dan Yohanes bersama Sang Guru. Selamat membaca.

            Bila kita menilik ayat 28 dari bacaan injil yang akan kita dengar pada hari minggu prapaskah yang kedua ini, di sana Lukas (lihat Lukas 9:28) memberikan petunjuk bahwa hanya tiga orang yang diajak untuk mengikuti Sang Guru ke atas gunung. Kita mungkin bertanya-tanya mengapa hanya tiga orang yang diajak? Bukankah Yesus memiliki bayak murid? Hal lain yang bisa menimbulkan tanda tanya adalah mengapa Petrus mengutarakan niatnya untuk mendirikan tiga kemah di tempat itu? (lihat Lukas 9:33). Mengapa para murid itu merahasiakan apa yang mereka lihat itu? Bukankah hal yang menakjubkan itu layak dan seharusnya disebarkan?

            Dalam renungan kecil ini saya mencoba membagikan hasil permenungan saya akan tiga pertanyaan di atas.

            Pertama: mengapa hanya tiga orang yang diajak dan bukan semua murid diajak Yesus ke atas gunung? Petrus, Yakobus dan Yohanes berhaluan nasionalis yang cenderung mempergunakan kekerasan (Luk. 9:54). Mereka yakin bahwa Yesus adalah utusan Allah (Mesias) yang datang untuk menegakkan kerajaan Israel, yang datang untuk mengusir penjajah Roma, membersihkan Bait Allah dari korupsi yang dijalankan oleh imam agung dan kepala-kepala agama. Rupanya ketiga murid ini memiliki visi yang keliru tentang kerajaan yang hendak diwartakan oleh Yesus, mereka lebih melihat ke-Mesias-an Yesus dari sudut politik. Karena itu Yesus mengajak mereka untuk memberikan ‘sedikit pembinaan’ intensif, lantaran ketiga murid ini juga memiliki pengaruh terhadap murid-murid yang lain. Itulah alasan mengapa hanya ketiga orang ini yang diajak oleh Sang Guru. Yesus mengajak mereka naik ke atas gunung itu, yang kita kenal dengan sebutan gunung Tabor untuk memperbaiki visi mereka akan Dia.

            Lantas muncul pertanyaan baru…apakah inisiatif  Yesus untuk memberikan sedikit pengajaran kepada ketiga murid itu berhasil, dalam hal ini berhasil merubah visi mereka tentang Yesus? Ternyata tidak. Sebab setelah kisah itu pun mereka masih tetap memiliki pandangan bahwa Yesus adalah mesias (politik) yang akan membebaskan dan menegakkan kerajaan Israel.

            Kedua: mengapa Petrus ingin mendirikan tiga kemah di atas gunung itu? Keputusan untuk mendirikan tiga kemah diutarakan oleh Petrus setelah melihat peristiwa yang sangat menakjubkan itu, saat Yesus menampakkan kemuliaanNya. Dalam literatur lain dikisahkan bahwa “…di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajahNya bercahaya seperti matahari dan pakaianNya menjadi putih bersinar seperti terang (lihat Matius 17: 2)” sementara Lukas mencatat bahwa ‘..tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu…  (lihat Markus 9: 3)’. Apa yang bisa kita pelajari dari tindakan Petrus ini? Rupanya Petrus begitu kagum dan bahagia sehingga ia ingin mendirikan kemah di temat itu. Kemah dalam dunia Perjanjian Lama menjadi tempat pertemuan antara YHWH dengan umatNya yang diwakili oleh para nabi (misalnya Musa). Kemah juga merupakan simbol tempat tinggal. Rupanya Petrus ingin mendirikan kemah di tempat itu untuk tetap tinggal di tempat itu. Hal ini dilakukan Petrus untuk menghalangi Yesus yang ingin menyelesaikan  misiNya di Yerusalem—sesuai dengan pemberitahuan Yesus sebelumnya (lihat Lukas 9:22).

            Apakah tindaka Petrus itu berhasil? Ternyata tidak. Sebab Yesus memilih untuk setia pada perutusan Bapa-Nya, tetap mengeraskan pandanganNya ke Yerusalem.

            Ketiga: alasan apa yang melatarbelakangi tindakan ke-tiga murid itu untuk merahasiakan apa yang baru saja mereka alami itu? Lukas mencatat …dan murid-murid itu merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceritakan kepada siapapun apa yang telah mereka lihat itu (Lukas 9:36). Namun pada literatur lain dikisahkan …pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceritakan hal itu kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati…(Markus 9:9). Dari kedua ayat ini kita bisa melihat alasan apa yang membuat mereka harus merahasiakan hal itu.

            Di sana dikisahkan bahwa Yesus meminta mereka agar jangan menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami itu kepada orang lain karena Yesus tidak ingin agar mereka memiliki pemahaman yang keliru akan diri dan tugas yang hendak Ia selesaikan. Yesus tidak ingin murid-murid lebih percaya hanya karena melihat hal-hal yang luar biasa dan berhenti di situ, tidak Yesus ingin menunjukkan kasihNya yang sebenarnya dan itu akan Ia tunjukkan dalam kemuliaan-Nya dalam bentuk yang berbeda…ditinggikan di atas Salib yang hina di Kalvari.

 

Apa relevansinya bagi kita saat ini terlebih dalam masa prapaskah ini?

            Sang Guru ingin menunjukkan kepada kita bahwa kalau kita lebih mengimani-Nya hanya pada tataran yang penuh kemuliaan itu, kita akan merasa bahwa Allah kita itu sangat luar biasa, besar, mulia dan agung akibatnya kita melihat Allah sebagai Allah yang jauh dari kita yang kecil ini. Konsekoensi lain, kita hanya akan melihat kehadiran Allah dalam hal-hal yang besar dan mengagumkan. Karena itu Yesus melarang Petrus, Yakobus dan Yohanes agar jangan menceritakan hal itu kepada siapa pun. Hal itu dilakukan Yesus agar mereka dan akhirnya kita tidak berhenti pada pemahaman akan Allah yang serba luar biasa itu. Sebab masih ada cara yang lebih agung untuk menunjukkan besarnya kasih Allah kepada kita, kasih yang begitu luhur sampai mengorbankan segalanya kendati nyawa sekalipun—yang terbukti di gunung Kalvari (Golgota). Dengan cara seperti  itu Yesus ingin menunjukkan bahwa Allah yang kita imani itu adalah Allah yang begitu peduli, yang dekat dengan kita bahkan bersatu dengan kita dalam pengalaman kita yang paling kecil sekalipun dan pengalaman yang paling hakiki…kematian. Makanya ada teolog yang menyatakan bahwa Yesus melalui dan mengalami semua hal yang dialami manusia agar semua orang diselamatkan. Yesus masuk ke dunia orang mati agar semua orang yang mati memperoleh kebangkitan seperti Dia yang telah dibangkitkan itu. Dengan cara ini, konsekoensi yang timbul adalah kita bisa mengalami kehadiran Allah dalam segala hal bahkan hal atau orang yang paling kecil sekalipun. Bukankah sang Guru sendiri telah bersabda barang siapa menerima saudaraKu yang paling hina ini, ia menerima Aku.

            Karena itu saudara-saudari sekalian mari kita memperbaiki visi kita. Sadarilah bahwa Allah yang kita imanni itu bukanlah Allah yang menuntut bagi diriNya suatu penghormatan, tetapi Ia adalah Allah yang begitu dekat dengan kita. Karena saking dekat itu makanya terkadang kita tidak bisa melihat dan merasakan kehadiranNya. Oleh karena itu saudara-saudariku yang terkasih mari kita memperbarui cara pandang kita, mari kita saling mengasihi dengan semua orang, terlebihmereka yang disisihkan. Beato Conforti (Pendiri Serikat Misionaris Xaverian) pernah memberi pesan seperti ini kepada para Xaverian “Hormatilah satu sama lain sebagai pangeran dan cintailah satu sama lain sebagai saudara”. Semoga kita pun mampu untuk saling berbagi kasih dan mencoba untuk menemukan Allah dalam hal-hal kecil. Selamat menjalani masa prapaskah ini. Semoga renugan ini bermanfaat.  

    

25/2/2010

Fr. Tryles Marianus Neonnub, SX

tablebottom
search title
search
Cari Artikel-artikel yang berhubungan dengan Xaverindo
Berita
Dukung Penggunaan Kata Allah bagi Gereja Malaysia
  Dukungan-dukungan bagi Gereja Katolik Malaysia terkait dengan penggunaan kata "Allah".
Harley-Davidson Paus Fransiskus Laku 4 Miliar
  Rumah lelang Bonhams di Paris, Perancis, mengumumkan hasil lelang sepeda motor Harley-Davidson Dyna Super Glide milik Paus Fransiskus, sekaligus jaket kulit khususnya, Kamis (6/2/2014). Di luar dugaan, nilai lelang sangat besar dan memecahkan rekor.
ASSEMBLEA SX 2014: “BERTOLAK DARI PEWARTAAN AWAL"
  Dari berbagai penjuru tanah air, para Xaverian berkumpul dalam perhelatan akbar assemblea 2 tahunan Serikat Xaverian yang diselenggarakan di Rumah Retret Canossa Bintaro, 06-10 Januari 2014.
 
bottom
Hubungi Kami | Links
Copyrights (C) 2007. xaverindo.org - Powered by SolisLogic