Lukas memulai tulisannya dengan sebuah kalimat “Teofilus yang mulia, banyak orang telah.............”Saya merefleksikan bahwa kalimat itu adalah sebuah sapaan. Seperti kebanyakan surat-surat lain, juga surat yang biasa kita tulis; sopan jika dimulai dengan sebuah sapaan, sapaan sudah menjadi hukum kodrat karena entah tidak disadari pun pasti dengan sendirinya akan muncul saat hendak menulis surat kepada orang tua, misalnya. Rasanya kurang pas kalau melupakan kalimat yang menjadi pendahulu surat itu. Kurang ajar sekali jika Orang Tua menerima surat dan di sana tertulis ”MINTA UANG SEBESAR RP 100,00” tanpa sapaan. Tanpa kabar berita. Orang Tua pun pasti bertanya-tanya, mengapa, bagaimana, pokoknya segala pertanyaan yang menuju pada kesimpulan ’minta uang sebesar Rp 100,00.’Ada apa!
Kembali ke Lukas, sudah jelasjika tulisan itu dialamatkan pada orang yang bernama Teofilus. Maksudnya apa, nanti akan kita lihat. Saya tidak bermaksud untuk melanjutkan penelitian sapaan Lukas di atas, karakter dan berbagai macam ragam literernya. Karena bukan tujuan saya. Tidak sopan juga jika saya langsung menjelaskan hasil renungan yang panjang lebar tanpa menyapa terlebih dahulu. Saya hanya mau mengatakan,,,,,,Anda yang mulia.... damai sejahtera bersama kamu,,,,,,sebuah sapaan dari saya; mengutip dari Lukas yang juga melakukan hal yang samakepada pembaca. Saya mengajak kita semua untuk merenungkan bab di atas. Itu tujuan saya; menuangkan makna sapaan Tuhan untukku dan semua orang. Saya hanya menarik dua garis besar yang dapat ditangkap dari bacaan ini. Keduanya yang akan menjadi inti garis permenungan. Pertama; dalam kuasa Roh......kedua; Ia mulai mengajar.......... Amat bagus jika Anda menemukan yang lain dari saya, sehingga saling melengkapi.
Yang pertama; dalam kuasa Roh......dalam Kitab Suci terdapat banyak sekali cerita tentang roh. Tetapi jika meniliknya terdapat dua arusyang saling berlawanan yakni; baik dan jahatyang terus berkonflik dengan Yesus. Roh yang dimaksud dalam bagian pertama sudah terspesifikasisehingga ketika dibaca, pemikiran kita mengarah pada Roh Allah, Roh Kudus. Apakah perlu menjelaskan Roh (Allah) itu??? Saya lebih condong pada kata Tidak daripada Ya dan pada akhirnya kita sama-sama tidak mengerti dan sesat. Maka alangkah baiknya kita refleksikan Roh Allah itu. Apa hebatnya Roh itu sehingga ia ada pada Yesus (ayat 18)??. Silahkan Anda menjawab sejauh mampu. Dapat direnungkan bahwa Roh yang dimaksud adalah semangat, kekuatan, pendorong, motivator. Coba lihatpadaKisRas 1 :1-5;2:1-13. Ada jawaban tentang Roh Kudus di sana. Penulis Kisah Para Rasul menceritakan situasi setelah kematian Yesus. Murid-murid dan orang-orang dekat Yesus seperti Maria Magdalena mengalami trauma bahkan murid-murid tidak mau keluar rumah. Tetapi apa yang terjadi setelah itu???? Mereka menjadi berani keluar dari persembunyian dan tidak takut terhadap banyak orang. Ada berbagai macam orang; orang Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, dan lain-lain mengerti bahasa mereka. Ketakutan yang dulu sangat membatasi pergerakan mereka justru dibolak-balik oleh Roh Kudus. Mereka pergi dan keluar menyebar ke seluruh daerah untuk mewartakan kerajaan Allah. Peristiwa kerasukan Roh Kudus itulah yang saya maksudkan.
Karya Yesus berdasarkan pada kuasa Roh itu. Ia tidak berjalan sendiri sekalipun ia bisa menjungkir-balikkan sesuatu. Dalam hal ini kita masuk pada relasi dengan Bapa-Nya. Yang ditunjukkan Yesus adalah Ia memiliki backing karena itu tidak ngawur. Yesus menjalankan sebuah karya yang didasarkan padasebuah tujuan pasti. Ia menjalankan perutusan sesuai dengan kehendak Bapa. Ketika kuasa itu ada pada-Nya sudah jelas bahwa kehendak Bapa bukanlah barang yang dapat ditawar-tawar. Kita mengingat lagi peristiwa taman Getsemani. Dalam Lukas diceritakan dalam bab 22:39-46 khususnya ayat 42 ”Ya Bapaku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Jika kita membaca secara gamblang akan terlihat bahwa kehendak Bapa bisa jadi sangat membutakan Yesus. Maksudnya bahwa Yesus turut saja kehendak Bapa, seolah Ia tak memiliki hak sedikitpun untuk berbicara dengan Bapa. Harap persepsi ini dibuang jauh-jauh. Menuruti kehendak Bapa bukan menuntut kita untuk mereduksi harkatku sebagai manusia. Yang dimaksudkan ialah bahwa kita memiliki totalitas pada Bapa. Itulah yang saya katakan Bapa sebagai backing agar tidak ngawur. Totalitas menuntut kesungguhan, kepenuhan hati, dan hanya pada Ia saya imani. Bukankah begitu??? Saya mau menceritakan soal kehendak ini.
Saya sekarang berada di tingkat II Skolastikat Cempaka Putih Raya-Jakarta. Saya menjalankan kerasulan sebagai pengajar di kampung nelayan Cilincing untuk anak-anak di sana khususnya kelas 2 – 4 SD dengan jumlah 30-an. Tidak ada satu pun yang kristen. Semuanya muslim. Mereka begitu manis untukku. Saya diminta untuk mengajar bahasa Inggris. Saya Ok saja. Setiap Jum’at pagi saya ke sana dengan berkendaraan sepeda motor karena jadwal mengajar adalah pukul 08.00-10.00. Pada jam ini saya tidak punya jadwal kuliah di kampus maka tidak bermasalah. Sementara sebelum ke sana saya harus misa dan kemudian sarapan. Kami di Skolastikat bangun pagi jam 05.00dan setelah itu misa. Jarak Cempaka Putih-Cilincing 30-an menit kalau balapan (motor) belum terhitung macetnya. Saya boleh saja beralasan macam-macam jika terlambat atau mungkin saja mengulur-ulur waktu pelajaran.Tentu para pendamping di sana mengerti dan rektor pun tidak tahu menahu apa yang terjadi di sana. Saya tidak mau terlambat. Itu tekad saya. Dansaya tidak mengingkari totalitas saya menjalankan kehendak-Nya. Saya tidak memikirkan bahwa kerasulan adalah sebuah ketaatan pada serikat saya atau apalah macamnya tetapihanya karena kehendak Tuhan. Saya menjalankan misi Yesus yang terlaksana melalui misi serikat. Karena itu saya berniat dengan segala kekurangan untuk total dalam mengabdi kepadaNya melalui tempat kerasulan. Memang ketakutan itu ada karena selain jalan sendirian, saya pun tidak tahu apakah ada yang mau menolong saya apabila terjadi kecelakaan pada diri saya. Saya meyakini bahwa di atas segala-galanyadan yang mampu membuat saya kuat untuk tetap merasul adalah semangat Pentakosta. Maka saya tidak merasa sendiri. Ada teman-teman dan para pastor pendamping yang jarang menolak diminta bantuan. Saya yakin bahwaada orang-orang baik di jalanan yang mau membantu. Tidak mungkin semua orang yang saya temui adalah jahat. Namun mengapa ada kekuatan yang mengatakan, ada banyak orang baik di jalanan, kamu bisa,....... dsb??? Kalau bukan Roh yang dikatakan dalam Kitab Suci itu! Saya merefleksikan bahwa ada kehendak baik dariNya yang tak kumengerti. Itu saja. Semangat itu yang mengobarkan setiap orang untuk berbuat dan menjalankan apa yang diimani.
Kedua; Ia mulai mengajar........kalau boleh saya menjalinfrasa pertama dan kedua maka hasilnya seperti ini; dalam kuasa Roh, Ia (mulai) mengajar. Saya sengaja menggabungkan karena ada sebuah makna bagi saya ketika melihat kembali karya Yesus.Awal Yesus mulai berkarya di dunia; berawal dari cerita tentang Roh yang digambarkan sebagai burung merpati (lih Luk 3:21-22) dan berakhir pula dengan penghembusan Roh. Karya Yesus di dunia tidak lepas dari bimbingan Roh. Ia mengajarkan kehendak Bapa. Kehendak itu adalah keselamatan dan tegaknya kerajaan Allah di dunia. Tetapi jangan dipikirkan bahwa setelah selesai di dunia, Yesus pun menghilang dan meninggalkan kita sendiri. Ia ada. Relasi antara dunia dan surga; Yesus dan Bapa itulah yang saya maksudkan. Karena dari relasi itulah manusia mengenal Bapa. Yesus sendiri pada saat-saat tertentu merasa ditinggalkan tetapi bagusnya bahwa Ia tidak pergi dari Bapa karena Ia tahu Bapa tidak pergi darinya bahkan dalam sakratul mautNya. Bapa adalah kekuatanNya untuk berkarya. Sekarang coba bandingkandiri kita dengan situasi Yesus. Yang menjadi semangat kita berkarya di dunia itu apa??? Kalaupun macam-macam yang menjadi penyemangat, motivator berkarya, tentulah yang pertama bukanlah Roh Kudus. Sebagai contoh saya membuka bengkel sepeda; kalau diurutkan berdasarkan motivator/ pendorong adalah;
-Uang untuk hidup
-Lapangan pekerjaan
-Hobi, dll
Rasanya aneh jika dikatakan bahwa saya membuka bengkel sepeda karena merasa sayang dengan para pengendara sepeda yang sulit mencari bengkel sepeda. Oleh karena saya mencintai mereka. Nah, apakah kita mau dikatakan aneh seperti Yesus??? Yesus tidak mengutuk setiap usaha manusia untuk hidup, tetapi ketika usaha itu mampu membuat manusia terikat, lupa akan Tuhan, berjalan sesuai kehendak tanpa relasi intim dengan Tuhan itulah yang mau ditegur. Keanehan itulah yang mau ditunjukkan Yesus bukan karena tampak luar melainkan demi sebuah nilai yang kadang misteri. Orang mungkin lebih berpikir realis sesuai dengan kebutuhan dunia tetapi Yesus mengajak kita untuk menggali nilai yang tidak terikat pada dunia. Maka jika mau belajar dari Yesus, cara itulah yang diwartakan Yesus kepada kita. Kita berjalan karena kuasa Roh Kudus. Roh itulah yang ada dan karena itu menyemangati kita untuk menjadi penghadir kerajaan Allah di dunia. Sekarang Anda sudah menemukan apa makna tulisan Lukas tersebut. Sekarang Anda sendiri yang menentukan urutan motivator, penyemangat, yang memberi semangat dalam berkarya di dunia ini; demi diri sendiri atau Tuhan. Maka pikirkanlah bahwa yang benar adalah saya menjauhi Tuhan atau Tuhan menjauhi saya????