Umat Kristen Irak mendesak perlindungan hak-hak mereka.
Ratusan umat Kristiani di Irak berunjuk rasa memprotes sejumlah pembunuhan. Ratusan umat Kristiani di Irak berunjuk rasa mendesak pemerintah agar bertindak setelah terjadinya serangkaian aksi pembunuhan.
Sedikitnya delapan orang Kristen tewas dalam dua minggu ini akibat kekerasan di Mosul, Irak Utara. Insiden pembunuhan itu mendorong Paus Benediktus mengimbau pemerintah Irak agar melindungi kaum minoritas.
PBB menyatakan lebih dari 680 keluarga umat Kristiani mengungsi dari Mosul sejak terjadinya berbagai serangan. Aksi unjuk rasa hari Minggu berlangsung di Hamdaniyah, sekitar 35 kilometer sebelah timur Mosul serta juga di Baghdad.
Para pengunjuk rasa di Hamdaniyah banyak membawa ranting pohon zaitun. Mereka dipimpin oleh sejumlah pendeta termasuk Uskup Chaldean Shlemon Warduni.
"Pemerintah tidak melakukan apa-apa sejauh ini," katanya.
Membela minoritas
Dia menyerukan agar Amerika Serikat, PBB dan Uni Eropa "membela hak-hak umat Kristiani di Mosul". Saya mengimbau pihak berwenang untuk melindungi keamanan warganya khususnya minoritas agama paling rawan.
Di Baghdad, sejumlah kecil pengunjuk rasa membawa bendera Irak dan meneriakkan "hentikan pembunuhan umat Kristen" dalam rapat umum di Lapangan Ferdus. Wartawan BBC Hugh Sykes di Baghdad mengatakan, militan Islam mengaitkan orang Kristen dengan apa yang mereka anggap "Perang Salib", pasukan AS yang memimpin invasi ke Irak tahun 2003.
Pembunuhan yang terjadi baru-baru ini merupakan bagian dari insiden kekerasan terhadap warga Kristen di Irak. Tahun 2004, lima gereja Kristen dibom di Baghdad. Sebagian umat Kristen dan pendetanya juga telah diculik dan dibunuh.
Toko-toko milik orang Kristen yang sering menjual minuman beralkohol juga dibom dan dibakar. Dua tahun lalu Uskup Agung Katolik Chaldean di Mosul, Paulos Faraj Rahho diculik dan dibunuh. Diperkirakan 700.000 orang Kristen Irak adalah Chaldean yang merupakan orang Katolik tetapi otonomi dari Roma meski mengakui otoritas Paus.
Dalam misa hari Minggu Paus mengatakan,"Saya mengimbau pihak berwenang untuk melindungi keamanan warganya khususnya minoritas agama paling rawan." Insiden pembunuhan terbaru ini berlangsung menjelang pemilihan anggota parlemen 7 Maret nanti.