JEPANG: BANGSA YANG MENCARI TERANG
Bangsa Jepang adalah bangsa yang paling banyak membaca, dan paling banyak bekerja. Tetapi barangkali juga paling tidak peduli dalam hal agama, meskipun mereka memilik agama-agama tradisional yang besar, yakni Budhisme dan Shintoisme. Terdapat kesan bahwa bagi bangsa Jepang kehidupan masyarak at.
Seorang Uskup Jepang menulis: “Kita harus mempersiapkan orang-orang yang mampu mengubah masyarakat Jepang menurut nilai-nilai Injil. “Agama-agama lama menghadapi tantangan dan rintangan kolonialisme modern. Kepada bangsa yang istimewa ini, yang rupanya secara tanpa sadar sedang mencari nilai-nilai rohani yang dapat mengisi hidup mereka, para misionaris Xaverian menyampaikan amanat Injil dengan penuh keberanian dan kegigihan seperti pelindung mereka, St. Fransiskus Xaverius, yang telah bekerja di Jepang dengan mencapai banyak sukses (1549 – 1552).
Para misionaris Xaverian tiba di Jepang menjelang akhir musim gugur 1949 saat jalan-jalan dan toko-toko telah mulai memamerkan hiasan-hiasan Natal mereka. Misionaris-misionaris itu adalah tiga orang Xaverian yang diusir dari Cina. Sekarang ini, hampir lima puluh tahun sejak saat itu, kita dapat melihat bahwa strategi yang digunakan pada waktu itu di negeri Matahari Terbit masih baik.
Sekitar empat puluh orang Xaverian bekerja di 24 pusat misi, dengan membeikan kesaksian, mewartakan kabar baik, membuka diri kepada dialog dan cinta kasih. Bidang kegiatan mereka sangat luas; beberapa orang mengajar di universitas, beberapa lainnya memimpin sekolah untuk anak-anak; ada yang merawat orang sakit dan penderita kusta, yang lain lagi memimpin paroki; ada yang mengkhususkan diri dalam kegiatan dialog dengan pemeluk Buddhisme dan ada pula yang dihormati karena bakat dan andil mereka di bidang seni. Semua itu dilahirkan dalam nama Guru ilahi yang mengajar para murid-Nya untuk menjadi garam dan terang bagi setiap realitas manusiawi. Akan berhasilkah terang Kristus memberikan sesuatu kepad negeri Matahari Terbit itu?
|