JUGA DI AREOPAGUS, SEBUAH KOTA KOSMOPOLITAN…
(Pelayanan Xaverian di Keuskupan Agung Jakarta)
Sampai tahun 1970, karya misi Xaverian di Indonesia menjangkau satu keuskupan yakni keuskupan Padang. Perkembangan pesat memunculkan kebutuhan untuk mendirikan sebuah prokur bagi Serikat. Tujuannya membantu kelancaran karya Xaverian di Indo nesia. Selain memenuhi kebutuhan administratif seperti pengurusan visa, prokur Xaverian juga diperlukan untuk memenuhi kebutuhan logistik Serikat, tempat persinggahan dan peristirahatan sementara pastor yang masuk atau keluar dari Indonesia. Tempat yang cocok untuk transit ini adalah Jakarta.
Atas izin Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ (alm), uskup Agung Jakarta, Prokur didirikan. Cuma, Uskup menghendaki agar para Xaverian juga bersedia berkarya pada sebuah paroki keuskupannya. Tawaran pertama adalah paroki Tanjung Priok. Tapi, lantaran tak sesuai dengan tujuan, akhirnya pilihan beralih ke daerah Toasebio (Glodog, Kota). Bermula dari Toasebio ini, mulai dirintis juga karya di daerah Pluit. Begitu pula, sempat juga Xaverian membantu di wilayah paroki Pademangan. Selanjutnya, atas permintaan Mgr. Leo Soekoto, Xaverian juga diminta untuk mengembangkan stasi di Bintaro yang sekarang menjadi paroki St. Matius Penginjil.
Kehadiran Xaverian di Paroki Toasebio, St. Maria de Fatima, meneruskan karya pastor Yesuit. Dengan lingkungan Tionghoa yang mayoritas beragama Budha dan masih memegang adat nenek moyang, Toasebio adalah ladang yang cukup menarik. Kenangan terhadap daerah misi St. Fransiskus Xaverius tetap terpaut. P. Pietro Grappoli mengawali penggembalaan Xaverian di sana pada tanggal 1 November 1970. Tiap tahun, jumlah baptisan selalu meningkat. Karya katekumenat yang ditekankan ternyata membuahkan hasil. Pendampingan di bidang pendidikan (Sekolah Ricci) dan kunjungan keluarga adalah sarana membangun komunitas kristiani.
Di sebelah utara, Paroki Stella Maris Pluit bermula dari stasi Sang Penebus Jembatan Tiga. Begitu ditingkatkan statusnya dan dipisahkan dari paroki Toasebio menjadi Paroki Pluit pada tahun 1974-1975 dan Xaverian dipercaya untuk mengelolanya. Denga menjangkau wilayah yang luas, saat ini Pluit termasuk Paroki yang mandiri. Beberapa paroki telah terbentuk dari stasi seperti Teluk Gong, Kapuk. Semula sebagian besar umat adalah penghuni wilayah kumuh. Namun pembangunan real estate menjadikan para pendatang sebagai umat yang cukup besar pengaruhnya. Kehadiran Xaverian di sana mau mengungkapkan solidaritas den gan umat.
Dalam perkembangannya, membangun Gereja yang mandiri akhirnya menjadi perwujudan karisma Xaverian.
Pelayanan pastoral Xaverian di Paroki St. Alphonsus Rodriguez Pademangan semula hanya membantu pastor Jesuit. Tapi sejak 1980 sampai 1983, Xaverian diberi kepercayaan untuk mengelola paroki itu. Karya katekumenat dan pendampingan keluarga ternyata mampu mendorong peran serta umat yang lebih besar. Sampai akhirnya, sejak tahun 1983, setelah dinilai cukup mandiri, Xaverian menarik diri dari sana. Selanjutnya, Uskup meminta Xaverian membuka Paroki di Bintaro. P. Otello Pancani memulai paroki sederhana dengan gedung darurat. Setelah sepuluh tahun melahani umat di daerah itu, pada tanggal 25 September 1994 mulai diresmikan Paroki St. Matius Penginjil Bintaro.
Kebanyakan umat adalah pendatang. Lantaran itu, umat berkembang pesat. Perhatian utama karya Xaverian adalah bidang katekumenat sambil membangkitkan jiwa misioner di kalanga umat. Diharapkan dengan semangat yang sama, akan terbentuk Gereja yang mandiri dan misioner.
|