JADIKANLAH SEGALA BANGSA MURIDKU!
Misi Xaverian di Keuskupan Sibolga
Gereja Katolik bukan misi pertama yang masuk ke Keuskupan Sibolga, terutama di pulau Nias. Sebelumnya, Zending telah menyebar dan berkembang. Bahkan masuknya Gereja Katolik sempat menimbulkan perlawanan dari Kristen Protestan. Tak heran, pada tahun 40-an sempat selama beberapa tahun, meski umat tak sedikit, pelayanan imam hampir tak menjangkau daerah itu.
Baru mulai 1955, para Kapusin Jerman yang diusir dari Kanshui, Tiongkok, masuk ke Nias. Waktu itu, hanya ada satu Gereja di pulau sebelah barat Sumatera itu, yakni Gunung Sitoli. Para misionaris Xaverian berkarya di nias sejak tahun 1981 atas permohonan dari Mgr.A.B. Sinaga OFM Cap. Saat ini para Xaverian melayani dua paroki yakni paroki kota (St.Maria Bunda Para Bangsa) dan paroki desa (Paroki Gembala Baik). Kedua paroki itu memiliki perbedaan karakteristik yang menuntut jawaban pastoral tersendiri.
Umat katolik di paroki Gunung Sitoli (kota) terdiri dari berbagai varian suku antara lain: Nias (yang terdiri dari berbagai marga), Cina, Batak dan beberapa orang Jawa. Jumlah umat Katolik di paroki kota: + 3.436. Mata pencaharian mereka, Nias: pegawai pemerintahan, guru, tukang becak, tukang bangunan dan banyak dari mereka adalah pelajar/mahasiswa. Cinta: rata-rata adalah pedangang (penguasa ekonomi Nias), Batak dan Jawa: pegawai pemerintah dan/atau guru.
Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa umat di Paroki ini termasuk umat yang sudah berpendidikan dan memiliki kedudukn penting dalam masyarakat. Jarak rumah umat dengan pusat paroki paling jauh tujuh kilometer. Sarana komunikasi cukup lancar. Paroki ini berada dalam kebersamaan secara berdampingan dengan umat beragama lainnya seperti Islam, Budha, Hindu dan Kristen Protestan yang terdiri dari beberapa aliran Gereja.
Kondisi yang demikian menuntut suatu jawaban pastoral khas. Beberapa karya pastoral itu adalah: Perayaan Ekaristi harian dan mingguan sebagai tanda dan ungkapan persatuan umat dengan Tuhan Yesus, mengusahakan dialog dan kegiatan ekumenis dengan umat beragama Kristen, mengusahakan komunio dengan perhatian pada orang-orang miskin lewat seksi sosial, mengadakan pendalaman iman paad momen-momen tertentu pada tingkat basis, serta mempromosikan Gereja kon-katedral sebagai pusat ziarah bunda Maria bagi seluruh umat Nias.
Dalam bidang kegiatan ekumene para Xaverian mempunyai andil besar. Hal itu terlihat dari adanya beberapa kegiatan ekumene yang telah berjalan lancar dan adanya persaudaraan yang cukup akrab di antara para pemimpin Katolik dan para pendeta, meskipun pihak Katolik seringkali menjadi “korban” karena mereka mesti harus bekerja keras dibanding yang Kristen Protestan. Kurangnya kerelaandari kaum awam untuk bergerak, meluangkan waktu dan tenaga untuk urusan kerasulan awam menyebabkan kerasulan awam tidak berjalan dengan semestinya.
Paroki distrik Gunung Sitoli terdiri dari 48 stasi yang tersebar di desa-desa berbagai kecamatan. Dari stasi-stasi itu, cukup banyak yang bisa dijangkau dengan kendaraan namun tak sedikit yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Tak mengherankan jika kunjungan ke stasi oleh dua imam dibantu oleh beberapa katekis rata-rata tiga kali dalam setahun. Umat umumnya berasal dari Kristen Protestan (BNKP: Banua Nuha Keriso Protestan) dengan kebudayaan Niasnya yang sangat kental. Umumnya mereka adalah eptani miskin dan berpendidikan rendah.
Situasi paroki yang seperti ini membutuhkan jawaban pastoral khusus. Langkah pastoral yang telah dibuat antara lain: mengusahakan kunjungan stasi bisa lebih dari 3 kali dalam setahun, memperkuat peranan awam dengan mendidik katekis paroki dan membentuk katekis wilayah, membangun struktur yang cukup kuat di tingkat paroki (dewan paroki inti).
Pada wilayah dan stasi, mengusahakan pemberdayaan umat melalui berbagai kursus seperti: kursus para pemuka jemaat, katekis wilayah, mudika, guru-guru sekolah minggu, mengadakan kerja sama dengan komisi-komisi untuk pembinaan umat seperti Komisi kateketik dan komisi sosial ekonomi (CU), mengusahakan ekumene di tingkat wilayah/stasi dan melaksanakan katekese/homili agar iman Kristiani semakin mengakar di hati umat sehingga nilai-nilai adat yang merugika mereka dapat semakin berkurang.
Karya yang telah dilakukan para Xaverian di Nias yang berusaha menghadirkan Kabar Gembira Injil dalam kehidupan nyata umat sehingga lama-kelamaan keterlibatan umat dalam kehidupan menggerja bisa sungguh semakin nyata. Semuanya itu tidak lepas dari banyaknya tantangan yang mesti dihadapi. Tantangan utama yang dihadapi adalah jarak antara stasi yang satu dengan yang lain berjauhan, keterbatasan tenaga untuk menggerakkan dan memandirikan mereka (para pengurus dan katekis) dalam berbagai kegiatan sehingga kehidupan jemaat semakin bergairah.
|