PERGI DAN WARTAKANLAH!
(Misi Xaverian di Kepulauan Mentawai)
Salah satu terobosan yang dilakukan Xaverian di keuskupan Padang pada awal karyanya adalah masuk dalam misi di kepulauan Mentawai. Sejak tahun 1901, sebenarnya Zending Protestan sudah mulai mewartakan injil di sana. Baru sejak tahun 1917, misionaris katolik menyusul masuk dengan target penggembalaan para pendatang yang bekerja sebagai pegawai di pulau-pulau itu. pengembangan lebih besar yang diimpikan Mgr. Brans, Vikaris Apostolik Medan, terbentur pada kurangnya tenaga imam dan perang dunia II tahun 40-an.
Sejalan dengan berdirinya Prefektur Apostolik Padang pada tanggal 27 Juni 1952, karya misi katolik di Mentawai boleh dibilang dimulai. Pada akhir 1953, Mgr P. De Martino, Prefek Apostolik Padang, waktu itu menugaskan P. Aurelio Canizzaro untuk menjajagi penginjilan bagi suku Mentawai. Tiga pulau, Pagai, Sipora dan Siberut dikunjungi. Baru awal 1954, P. Canizzaro kembali dan menetap di Siberut. Dibantu oleh dua katekis, Petrus Ndraha dan Ermanus Seleleubaja, pada Natal tahun itu, Gereja pertama di Siberut didirikan dan untuk pertama kali beberapa orang Mentawai dipermandikan.
Pada tahun 1956, P Angelo Calvi dan P. Petrus Calvi masuk ke Mentawai menggantikan P Canizzaro. Oleh kedua Calvi bersaudara itu, Gereja Sikakap (1959) dan Gereja Sipora (1962) didirikan. Menyusul kemudian, Yoseph Bagnara sx pada tahun 1969 merintis gereja Siberut Utara.
Karya misi Xaverian di pulau seluas 7.008 km persegi itu diwarnai dengan berbagai kesulitan pelayanan. Lokasi yang sulit dijangkau membuat para misionaris harus lewat laut dan menyusuri sungai. Untuk mendukung hubungan antarparoki dengan Padang, didatangkan kapal St. Maria dai Italia.
Bulan-bulan pertama, mempelajari bahasa setempat adalah keharusan untuk bisa mengerti budaya mereka. Inkulturasi liturgi lewat penyusunan lagu-lagu, katekismus dan buku-buku doa yang dimulai P Sandro Patacconi lalu diteruskan antara lain oleh P Fernando Abis terasa cukup berperan dalam pewartaan iman di sana.
Selain karya pastoral di empat paroki itu, Xaverian juga berkarya di bidang kesehatan. Kehadiran para suster Mater Amabilis (Ausiliarie Laiche Internazionali / ALI) yakni Sr Carolina dan Sr Christina pada tahun 1958 mewujudkan dibukanya poliklinik di Siberut(1958) dan Sikakap (1971). Selain turut melayani kesehatan dalam kunjungan pastoral di daerah pedalaman, para suster ALI juga membuka kursus ketrampilan putri (Kursus Ketrampilan Wanita dan Kesehatan / KKWK) di Sikabaluan. Sekolah pertukangan kayu dibuka Br Dario di Sipora. Sejak awal, pendidikan merupakan prioritas karya pastoral di Mentawai. Pada tahun 1955, di Siberut Hulu, Siberut Selatan, didirikan SD katolik pertama. Menyusun pendirian sekolah-sekolah di banyak dusun dari keempat pulau tersebut. Untuk menampung para murid dari pelosok, di Muara Siberut dan Sikabaluan didirikan asrama. Para guru yang sekaligus katekis didatangkan dari Jawa, Tapanuli dan Nias. Banyak putra Mentawai mulai dikirim belajar di Padang supaya bisa kembali untuk membantu saudara-saudarinya. Bahkan sudah ada dua imam putra Mentawai yang ditahbiskan yaki P Mateus Teteburuk Pr dan P Emil Sakoikoi Pr.
Karena letaknya terpencil, kehidupan sosial dan budaya Mentawai masih sederhana. Untuk mengembangkan kehidupan penduduk Mentawai, Gereja memberi andil dengan membina masyarakat dalam bentuk komunitas basis dari stasi-stasi dan rayon-rayon. Bekerja sama dengan lembaga dan organisasi kemasyarakatan lainnya, Gereja turut membela hak-hak masyarakat Mentawai. Yayasan Laggai Simaeru, misalnya,didirikan P. Caisutti untuk memberdayakan masyarakat setempat. Beberapa buku ibadat dan pelajaran agama dalam balas Mentawai dibuat untuk mempermudah pewartaan iman di sana.
|