Mereka Diutus-Nya Pergi Berdua-dua
(Misi Xaverian di Dekenat Sumatera Barat)
Sejak awal, Mgr. Brans punya keinginan untuk mengembangkan misi di daerah Sumatera Tengah. Tak hjeran, misi yang sama ditekankan pula pada para Xaverian. Tiga prgoram yang dicanangkan Mgr. Brans pada para Xaverian salah satunya membuka misi di Pekanbaru dan kelompok transmigran (pendatang). Sambil memegang teguh kepercayaan itu, para Misionaris Xaverian tetap berkarya di paroki-paroki dalam wilayah Sumatera Barat.
Karya Xaverian di Sumater Barat memang kurang menjangkau masyarakat setempat (Minangkabau). Masalah keterikatan adat dan budaya menjadi kendala utama. Tak heran, karya Gereja di sana banyak menjangkau masyarakat etnis Tionghoa dan para pendatang (transmigran). Di wilayah Keuskupan Padang, karya pastoral Xaverian mulai di Paroki St. Teresia, Padang . Sejak tahun 1951, paroki ini menjadi pusat kegiatan Katolik sebagai paroki katedral. Selain bidang pastoral, di paroki ini Xaverian berkarya juga dalam dialog antaraumat beragama, katekese, dan pendidikan.
Pada bulan April 1952, Paroki Bukittinggi yang meliputi kodya dan kabupaten Agam diserahkan Ordo Kapusin ke Xaverian. P. Mario Boggioni, sx mengawali karya pastoral di wilayah yang semula meliputi Padang Panjang, Payakumbuh, dan Pasaman itu. Di paroki ini, Gereja aktif dalam bidang kesehatan, pendidikan dan katekese bersama para suster.
Pada tahun itu pula, Misionaris Xaverian menjangkau karya pastoral di Paroki Payakumbuh. Paroki lama yang semula bagian dari Bukittinggi ini berkembang di tengah komunitas muslim Minangkabau. Bersama suster-suster Fransiskanes (OSF), Xaverian berkarya dalam bidang kesehatan dan pendidikan.
Paroki Sawah Lunto berawal dari komunitas katolik di pertambangan batu bara. Pendatang Jawa, Batak dan daerah lain menjadi umat Katolik di paroki yangmeliputi kodya Solok, Sawah Lunto, dan Sijunjung itu. Dari semula dilayani dari Padang, sekarang Xaverian (P. Ferraro) hadir secara tetap di paroki itu.
Melayani umat Katolik pendatang, terutama dari Jawa, adalah misi utama Xaverian di Paroki Mahakarya, Pasaman. Berdiri sejak 26 Juni 1966, selain di bidang rohani, karya Xaverian di paroki ini juga menyentuh bidang pendidikan. Sejak 1957, misalnya, P. Spinabelli membuka SD Katolik Santa Maria di Pinang. Pasaman bagian timur kini dilayani dari Bukittinggi.
Lantaran lingkupnya yang terlalu luas, sejak pertengahan 1960 Paroki Padang Baru yang meliputi kabupaten Pariaman didirkan. P. Spinabelli untuk pertama kalinya dipercaya untuk menanggani paroki ini yang sudah tersedia karya kesehatan dan pendidikan. Ada sebuah asrama untuk anak-anak dari daerah yang khusus dididik menjadi guru atau katekis.
Setelah tanpa pastor, pada tahun 1962, Paroki Padang Panjang akhirnya dibuka kembali. Selain karya pastoral, bersama suster-suster Fransiskanes (OSF), Xaverian menanggani pendidikan. Kendati tantangan dari masyarakat setempat tidak sedikit, tapi karya pastoral di sana mampu memberi arti.
Umat Paroki Kayo Aro, Kerinci, yang meliputi kabupater Pesisir Selatan dan Kerinci jumlahnya kecil dan terpencar-pencar. Setelah sempat mengalami kesulitan mendaptkan pelyaran rohai, akhirnya ditempatkan seorang pastor yang khusus. Kebanyak umat paroki ini berasal dari Jawa danetnis Tionghoa.
Di daerah pinggiran kota Padang, Paroki Padang Muara, Tirtonadi semula mayoritas terdiri dari umat suku Nias dan Cina. Kondisi umat yang memprihatinkan dan terpencar ini membuat P. Fransisco Bizzoto, sx mengusahakn sekolah untuk anak-anak kurangmampu di sepanjang sungai Batang Arau. Sekarang, umat paroki ini berkembang sejalan dengan pertambahan para pendatang.
|