KOLUMBIA: GEREJA YANG SEDANG TUMBUH
Para misionaris Xaverian tiba di Kolombia pada tahun 1983 dan ikut melanjutkan sejarah panjang pewartaan Injil yang dimulai pada abad ke-16 dengan menciptakan “reduksi-reduksi” (kelompok-kelompok yang hidup bersama). Pada abad ke-17, ketika paroki-paroki sedang dibentuk dan kegiatan misi bergerak menuju orang-orang “indios” di pedalaman, St. Petrus Claver mengumandangkan suaranya melawan perdagangan budak belian.
Dengan dicapainya kemerdekaan pada tahun 1891, Gereja mulai menghadapi kesulitan. Para uskup dan imam diusir, gereja-gereja dinajiskan dan ibadat-ibadat dikontrol serta dibatasi. Tekanan ini baru sedikit reda dengan perjanjian yang dibuat dengan Tahta suci pada tahun 1878, walaupun pemerintah sendiri Katolik.
Perayaan Sidang Pertama Dewan Uskup Amerika Latin di Medellin secara resmi membuka masa pembaharuan Gereja yang bersifat profetis, degan melibatkan kaum religius khususnya dalam membela hak-hak manusia dan dalam menentang ketidakadilan.
Para misonaris Xaverian memulai karya mereka di Buenaventura, kota pelabuhan besar di pantai pasifik. Penduduknya yang kebanyakan terdiri dari orang-orang yang berasal dari Afrika, banyak menderita diskriminasi dan semua kejahatan sosial yang sudah menjadi tradisi di dalam masyarakat ini, yakni kemiskinan, perdagangan narkotika, dan kekerasan. Para misionaris Xaverian mendampingi orang-orang ini dalam usaha mereka untuk melestarikan nilai-nilai budaya tradisional mereka dari Afrika, dan membantu mereka merasa dilibatkan sepenuhnya dalam masyarakat, bangsa dan gereja.
Di Cali, para misionaris Xaverian bekerja di daerah pinggiran kota untuk mengimbangi dampak-dampak keterasingan penduduk, akibat urbanisasi. Di Bogota, ibukota Colombia, tempat karya mereka yang masih baru, para Xaverian mengambil arah karya yang berbeda, yakni aksi panggilan di antara kaum muda dan pengembangan semangat misi di dalam Gereja Kolombia. Gereja Kolombia, yang berusaha memperkaya dirinya dnegan membuka diri pada dimensi misi, juga melalui karisma Xaverian, ingin melampaui batas-batasnya agar dapat memberikan sesuatu “dari kemiskinannya sendiri” kepada Gereja Kristus. .
|