Seorang Pastor yang tak tergerus zaman
Oleh Enrico Pepe,
Diterjemahkan dari Curato d’Ars, prete d’avanguardia, Citta’ Nuova, N. 15/16, 2009, Pastor 33-34.
Negara Perancis sedang mengalami pergolakan pasca revolusi. Di kota Dardilly, gereja paroki sudah ditutup dan setiap kegiatan keagamaan dilarang: di kota Dardilly inilah, Jean Maria Vianney lahir. Ketika dia menerima komuni pertama di sebuah gubuk di ladang, dalam perayaan Ekaristi yang dilakukan secara diam-diam, Jean Maria Vianney merasakan hasrat yang kuat untuk menjadi pastor . Sebuah ide yang nampaknya mustahil: apa lagi pada waktu itu tidak ada kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Untunglah, pada waktu itu seorang pastor yang berani, Charles Balley, sudah membuka sebuah sekolah untuk calon pastor di parokinya.
Secara manusiawi Jean menjadi sebuah kasus yang hampir tidak ada harapan sebab usianya sudah 20 tahun lebih. Apalagi kemampuannya dalam baca dan menulis masih sangat terbatas. Namun keterbatasan tidak menghalangi Pastor Balley untuk menerimannya di sekolahnya, sebab Pastor Balley menghargai kemurnian batinnya dan ketekunan sebagai orang petani. Jean sendiri merasakan sulitnya mengikuti pelajaran-pelajaran, khususnya pelajaran Bahasa Latin, sedangkan mempelajari dan menghayati kata-kata Injil menjadi hal yang sangat mudah baginya.
Ketekunan kedua orang itu menghasilkan sesuatu yang dianggap mustahil: tanggal 13 Agustus 1815 Vianney ditahbiskan imam, dengan syarat tetap didampimpingi Pastor Balley serta belum diperkenankan menerima pengakuan dosa. Kedua pastor itu hidup bersama selama 3 tahun dalam suasana yang sangat indah.
Ketika pastor paroki meninggal dunia, pihak keuskupan belum mempercayakan paroki sebesar itu kepada Pastor Vianney. Pihak keuskupan menugaskan dia di sebuah dusun kecil, yaitu Ars, yang terdiri dari 40 rumah dengan 270 penduduknya, sebuah dusun yang memprihatinkan dari segi iman dan perilaku moral.
Si pastor muda itu memulai pekerjaannya dengan menata kembali gereja kecilnya serta menjalin hubungan dengan umatnya. Vianney berusaha mencari mereka di rumah atau di ladang, berbincang-bincang dengan mereka mengenai panenan atau hewan peliharaan mereka. Dengan cara seperti ini dia mencairkan suasana dan membangun persahabatan. Dalam waktu yang singkat dia dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan umatnya.
Karena kehidupan ekonomi sangat sulit, dan bukan karena ideologi ateis revolusi, kaum pria lebih memilih bekerja di ladang daripada pergi ke gereja pada hari Minggu pagi, sedangkan sorenya mereka beramai-ramai ke kantin di dusun itu. Di kantin itulah mereka sering tawuran dan menghujat Tuhan dengan kata-kata kasar, serta menghabiskan uang yang masih tersisa. Para gadis tidak bisa menikah karena tidak mampu membayar mas kawin serta tidak ada kesempatan untuk mempelajari keterampilan apapun. Satu-satunya kegiatan mereka adalah mengembalai domba-domba milik keluarga yang tidak seberapa besar jumlahnya, serta mengumpulkan rumput untuk persediaan makanan ternak pada musim dingin. Hari-hari raya menjadi kesempatan untuk berpesta dansa sepanjang malam sampai pagi.
Melihat keadaan demikian, Pastor Vianney melontarkan sebuah kalimat yang sangat terkenal: “Biarkanlah sebuah paroki tanpa pastor selama 20 tahun, maka orang akan menyembah binatang!”
Sebetulnya Ars tidak semuanya seburuk itu. Pastor Vianney pernah memperhatikan seorang petani yang setiap sore, sepulangnya dari ladang, meninggalkan alat-alat kerja di luar pintu gereja, lalu masuk dan lama duduk diam. Suatu hari Pastor Vianney menghampirinya serta bertanya: “Apa yang Anda lakukan di sini dengan diam-diam saja, bapak?”. Si petani heran karena pertanyaan itu. Ia menjawab: “Saya sedang menghadapi Tuhanku: Dia memandang saya dan saya memandang Dia”.
Bagi seorang “pastor ” doa adalah tugas utama. Jika orang-orang lain beramai-ramai di kantin sambil menghujat Allah, tidaklah demikian dengan Pastor Vianney. Dia berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus dan menyembah-Nya serta mempersiapkan katekismus untuk pelajaran anak-anak dan orang dewasa. Dia yakin bahwa Tuhan, lebih dari buku-buku, akan memberi inspirasi agar kata-kata yang diucapkan tepat dan dimengerti. Dia juga menjalankan mati-raga. Tentu mati-raga tidak terlalu sulit dilakukan, karena pada waktu itu kehidupan penduduk Ars serba sulit. Memiliki sedikit kentang rebus dan sedikit garam saja sudah dianggap beruntung! Karena kesalehannya, dia menambah beberapa praktik yang sedikit berlebihan, yang nantinya merusakkan kesehatannya. Dia sendiri mengakuinya dengan mengatakan: “Inilah kesalahan yang lumrah bagi orang muda”.
Doa dan mati-raga bukan segalanya bagi dia. Dengan melihat begitu banyak putri yang miskin baik dari segi materi maupun dari segi moral, dia mendirikan sebuah sekolah. Di sekolah, yang dinamainya “Sekolah Penyelenggaraan Ilahi”, menjadi tempat bagi mereka untuk memperoleh makan, pendidikan, dan keterampilan-keterampilan tertentu. Tidak hanya itu, bagi orang dewasa dia mendirikan dua lembaga: satu untuk ibu-ibu, satu untuk bapak-bapak, dengan melibatkan mereka semua dalam kegiatan baik liturgi maupun sosial.
Perlahan-lahan suasana di paroki ini mulai berubah dan kemasyhuran pastor , yang dulunya dikenal hanya sebagai pastor yang serba keterbatasan, menyebar bahkan sampai ke luar batasan dusun Ars. Di pasar-pasar pun terdengar para petani memuji dia: “Belum pernah ada seorang pastor yang dapat berbicara kepada kita seperti pastor ini!” Pastor Vianney sendiri, takjub menyadari perkembangan di Ars itu, pernah mengatakan: “Saudara-saudaraku, Ars bukan lagi Ars!”, lalu mengatakan juga bahwa kuburan kecil di kampung ini sudah penuh dengan orang suci.
Tersebar juga berita bahwa di Ars itu terjadi peristiwa-peristiwa ajaib: memang pertobatan-pertobatan yang terjadi di ruang pengakuan sungguh luar biasa. Pastor Vianney mengatakan bahwa semuanya itu terjadi berkat bantuan Sta Filomena. Bagaimanapun orang banyak beramai-ramai datang untuk meletakkan segala beban dosa mereka di hati “Pastor suci itu”. Tidak sedikit pula orang yang mencari penyembuhan, pulang dengan hati yang terhibur.
Pada waktu itu tersebar juga berita-berita yang menfitnahnya. Banyak orang tidak mengerti bagaimana seorang pastor kampungan, yang kurang terampil, dapat melakukan mukjizat-mukjizat. Berita itu sampai ke telinga uskupnya, yang menginstruksikan sebuah penelitian kanonik yang akhirnya membuktikan bahwa berita-berita itu tidak mempunyai dasar. Sesudah kejadian itu jumlah orang yang berziarah ke Ars malah bertambah banyak.
Pada tahun 1848, Pastor Lacordaire (seorang pengkhotbah yang terkenal) diutus ke Ars. Sesudah mendengar khotbah dari Pastor Vianney, Lacordaire mengatakan kepadanya: “Anda mengajarkan kepada saya bagaimana mengenal Roh Kudus”. Lalu, Pastor Vianney, sesudah mempersilakan Lacordaire berbicara di gereja kepada umatnya, berkomentar demikian: “Ada yang mengatakan bahwa kadang-kadang kedua ekstrem bersentuhan. Dan persis itulah yang terjadi di mimbar gereja Ars kemarin. Kita semua telah menyaksikan pengetahuan yang paling tinggi berhadapan dengan ketidaktahuan yang paling dalam”. Kepada orang yang bertanya bagaimana pendapatnya tentang khotbah si pastor itu yang pengetahuan kurang, Lacordaire menjawab: “Alangkah baiknya semua Pastor di pedalaman dapat berkhotbah sebaik orang ini”.
Enrico Pepe
14/11/09
Diterjemahkan oleh P. Matteo Rebecchi, SX |