|
BIARLAH KEHENINGAN BERTERIAK!
Oleh
Reynaldo Fulgentio Tardelly (0160103203)
Ignasius Tula Wator (0158803203)
Yosef Akandi Nalu (016103203)
Leonardus Depa Dey ( )
Prakata: to be a good listener
Daya Hening Upaya Juang yang ditulis misionaris Serikat Sabda Allah ini adalah dialog yang hidup, kreatif dan mendalam dengan agama-budaya primal, agama yang tersisih. Tersisih karena dominasi agama-agama semitik termasuk Kristen seringkali mengurungnya dalam penghakiman yang sedikit arogan: kafir, gentiles. Terpinggir karena kultur kemajuan yang diembuskan Kekristenan membuat orang-orang meninggalkan tidak saja teriotori lokalnya tapi juga nilai-nilainya. Apa yang dinamakan barat, modernitas, kemajuan lebih manarik, lebih atrakttif. Pada paruh terakhir abad 21, Gereja mulai sadar diri, ternyata ke-Kristenan yang tumbuh subur tidak semata-mata berkat pewahyuan yang berlatarbelakang kultur yahudi-semitik tapi juga dikondisikan, ditumbuhkembangkan oleh kultur-kultur setempat. Gereja mau bertolak lebih dalam dalam usaha mendengarkan sabda Tuhan yang ternyata berbicara – bahkan sudah lebih dahulu- dalam kearifan budaya lokal yang menjadi pesemaian bagi tumbuhnya benih Ke-Kristenan Asia. Agama primal ternyata membawa pesan setereologisnya sendiri. Dan sotereologi Ke-Kristenan Asia makin konkret terasa ketika ditumbuhkembangkan atau berakar dari kearifan lokal tersebut. Jhon Mansford Prior dalam pengalaman di Ende Lio menemukan daya pembebasan dan keselamatan yang bersumber dari keheningan saat mendengarkan Sabda Allah dalam mitos, cerita, puisi, arsitektur Lio.
Pengalaman pengenalan dan penemuan daya pembebasan dalam dunia Nusa Tenggara dilalui Prior secara selektif yakni dengan memberi perhatian pada realitas harian dan simbol-simbol budaya, bahasa dan gambaran-gambaran mentalnya sebagai entitas real yang memberi makna bagi manusia Nusa Tenggara. Realitas harian menyangkut keprihatinan utama, kebutuhan dan tantangan yang mereka alami. Dunia simbolik terpatri pada mitos, upacara, nilai budaya, ritual keagamaan yang memberi makna bagi dunia harian.
Realitas harian bisanya mejadi pusat perhatian, karena itu yang paling real. Dalam hidup harian itu, orang memperlakukan barang, benda, binatang dan orang sejauh itu memberi manfaat atau memberi nilai guna baginya agar ia tetap survive. Isi realitas harian itu adalah lingkaran-lingkaran kepentingan. Saat musim berladang, musim tanam atau tuai, hidup agraris menjadi pusat perhatian. Ketika musim kemarau, pusat perhatian beralih ke kampung di mana kekerabatan dibangun. Kompleksitas hidup mereka, susah, senang, tantangan dan benturan dalam rentang musim tersebut dapat dikuasai dalam pengertian pragmatis, apa yang bisa saya kerjakan hari ini agar saya dan keturunan saya dapat terus bertahan. Kebahagiaan adalah hic et nunc, sekarang dan di sini. Karenanya, nilai-nilai atau tujuan jangka panjang tidak terlalu dipedulikan. Dunia sehari-hari ini memang terlihat bersahaja, sederhana dan teratur. Dan orang aman/betah menikmatinya. Namun, daerah aman itu terusik oleh kehadiran apa yang dinamakan kemajuan yang berpretensi regulatif bahkan represif dalam bentuk perubahan ekoomi , sosial, politik. Represi kemajuan atas budaya hidup yang sederhana dan teratur, membuat orang tersisih, terasing, menjadi the margin atau kaum tepian sebab kemajuan selalu mengklaim diri lebih baik,lebih maju, lebih cepat. Adanya traktor misalnya membuat orang tak perlu bersusah-susah lagi menggarap sawah dengan kerbau; atau adanya pupuk kimia tertentu membuat petani tak perlu lagi mengusahakan pupuk kompos. Teknologi dan kultur kemajuan membuat kita tak lagi intim dengan alam. Kritik Marx layak diperhatikan: teknologi dan sifat percepatannya membuat orang tak saja terasing dari alam, tapi kehilangan makna kerja sebab semuanya hampir serba instan, cepat. Sedangkan dunia sehari-hari yang bersahaja terkesan lambat, kurang, miskin. Orang-orang di hadapan sosok kemajuan, merasa minder, kalah.
Kenyataan kekalahan (juga sebagaimana termanifestasi dalam ketidakadilan, kemiskinan) membuat mereka mempertanyakan kembali dunia harian mereka. Realitas sehari-hari rasa-rasanya tak lagi bisa menjawab seluruh masalah dalam kompleksitas hidup mereka. Maka, mereka tak mau membatasi diri pada hidup kini dan di sini. Tradisi keagamaan yang diwarisi nenek moyang memberi jawaban yang melampaui keterbatasan dunia harian. Inilah yang disebut dunia simbolik yang memberi makna, arah, orientasi bagi hidup sehari-hari antara lain lewat mitos, upacara adat, dan epos setempat.
Prior mau melihat relasi dunia harian dengan dunia simbolik lebih dengan kaca mata mistik dan bukannya ilmiah (walau itu tetap perlu agar tidak membuat objek analisis ini terlalu romantis, mengada-ada). Justru dengan pendekatan mistis, kita akan menemukan betap dunia simbolik begitu berpengaruh memberi makna dan mengarahkan dunia pragmatis. Cerita-cerita leluhur, mitos, legenda memberi daya bagi masyarakat setempat untuk berjuang, menjawab persoalan hidupnya sekaligus melampaui persolan hidup hariannya itu; berperan normative sebagai kebijaksanaan hidup untuk memaknai pengalaman mereka;serta mencerminkan cita-cita, harapan dan kerinduan. Dalam kesahajaan hidup seperti ini, mitos melampaui kekuatan logos ; dunia simbolik yang berisi cita-cita dan harapan masa depan batin melampaui pragmatisme hidup harian yang seolah-olah mengurung dunia dalam kekinian dan kedisinian.
Prior mengajak kita memberi perhatian pada rasa kegamaan dan keberagamaan lebih dari lembaga agama itu sendiri( beriman atau beragama). Ia menjadikan budaya masyarakat primal, masyarakat tersisih sebagai titik tolak refleksi sekaligus melawan mainstream yang mengklaim rasio/logos sebagai penentu peradaban dan kebahagiaan dan menggarisbawahi arti penting kebijaksanaan (termasuk local wisdom) yang begitu hidup dalam mitos-mitos lokal. Gejala ini nampaknya seperti teologi pembebasan (mengangkat budaya kaum tersisih, di mana Allah justru hadir dan berbicara yang sayangnya tidak didengarkan).
Agama Lokal: Pesemaian untuk benih ke-Kristenan
Prior menjumpai adanya nilai Kristiani yang digemakan dalam etika sosial orang Lio-Ende misalnya ketika mau menyelesaikan permusuhan, persengketaan antara warga, Hukum sifatnya menyatukan kembali relasi dan bukannya menegaskan terputusnya relasi (dengan vonis penjara, atau yang lainnya).Tidak ada konsep balas dendam sebab semua perselisahan diselesaikan secara bersama, melibatkan segenap anggota desa. Prior lalu merasa orang Lio lebih ‘Kristiani’ dibandingkan orang ‘ Eropa’.
Sama halnya orang Ibrani yang pernah menjadi minoritas di tengah dominasi ideologi masyarakat Kanaan , kini orang Lio berhadapan dengan dominasi atau bahkan represi budaya luar dengan bangunan nilai yang berbeda. Mis. Dalam hal keagamaan, keagaaman orang Lio tergolong ‘kafir’ sedangkan keagamaan ‘barat’ yang berbasis yudaisme tergolong agama wahyu,agama benar. Refleksi kritis Jhon Mansford Prior sampai pada pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti berikut ini: kalau memang sejarah masyrakat Yahudi mewahyukan keharian penyelamatanAllah, bukankan sejarah dan masyarakat Lio juga mewahyukan yang sama? Mengapa yang satu disebut pewahyuan dan yang lain disebut sebagai ‘kebudayaan asli’ kalau yang asli sama atau lebih tinggi nilai teologis dan etisnya daripada yang diwahyukan dalam Alkitab (p.11).Orang Lio seperti yang dikatakan di atas menempatkan perselisihan dan perdamaian sebagai nilai penting dalam hidup bersama. Yahudi dan demikian pula Ke-Kristenan menempatkan dosa dan pengampunan sebagai nilai yang paling penting. Perbedaan lain: kalau Allah oleh orang yahudi didekati sebagai penyelamat, orang Lio mendekati-Nya sebagai Pencipta; kalau Yahudi serta agama semitik lainnya menempatkan sejarah manusia sebagai pusat kehadiran Allah, orang Lio menempatkan kosmos sebagai pusat kehadiran Allah.
Bertolak dari pengalaman pastoralnya di dua tempat yang berbeda di Maumere, Prior menemukan adanya dua corak Gereja di Nusa Tenggara yakni Gereja rakyat dan Gereja resmi, institusional. Gereja resmi ia temukan di Maumere, ketika menjumpai ke-Kristenan yang aktif, hidup dan partisipatoris meski umatnya multi etnik (dari etnis di daerah atau pulau lain di NT). Sedangkan Gereja rakyat ia temukan ketika berkontak dengan orang-orang Katholik di desa, petani dan penggarap-penggarpa swaha.Meski tingkat partisipasi tidak seaktif gerja formal, imam merka tetap teguh, jujur, tebuka, bersahaja dan berurat-berakar.
Persis di persimpangan perjumpaannya (yang berkebudayaan Eropa) dengan kebudayan Lio ini, Prior berkesimpulan bahwa wawasan primal-asli, dengan struktur keprecayaan – yang sudah berusia duapuluhribuan tahun-dan tingka laku setempat, membntuk basis desa kekristenan popular di Flores. Keduanya saling berhubungan meski tetap otonom. Ini menegaskan sifat Gereja orang Flores yang terinkarnasi atau mendarah daging daripada kasus sinkretisme. Allah faktual menginkarnasikan dirinya bukan saja dalam tradisi yahudi-kristen. Prior yakin tadisi primal asli yang hidup dalam Gereja Flores kontemporer adalah sarana pewahyuan Allah. Thesis di atas akan dijelaskan lebih komprehensif pada bab IV dan bab-bab sesudahnya.
Kesinambungan tradisi primal asli orang Flores dan ke-Kristenan dielaborasi Prior dengan mengacu pada tiga level kebudayaan menurut Victor Turner berikut ini:
- paradigma dasar: -pengalaman priomordial/pengalaman inti: setiap agama menawarkan pembebasan, keselamatan. Menemukan pengalaman inti itu tak lain kita peroleh dengan masuk melalui pintu dunia simbolik agama setempat.
- simbol-simbol utama: bahasa, kondis-kondisi mental
- tingkah laku sehari-hari
Bertitik tolak dari kategori Turner di atas, Prior berkesimpulan:
Pertama, Allah mewahyukan diri lewat kebudayaan lokal. Dunia simbolik atau visi primal-asli membentuk basis pengalaman akan Yang Ilahi.Visi Kristiani yang diwartakan Gereja tumbuh dan bercabang serta menghasilkan buah berkat basis itu.
Kedua, dalam paradigma dasarnya seperti dalam pengalaman priomordial primal-asli, Allah berbicara kepada masyarakat Flores. Paradigma ini tetap kuat, eksist, dan bertahan.
Ketiga, Visi primal-asli tidak bertentangan dengan visi Ke-Kristenan. Yang satu dalam bahasa saya bisa dikatakan sebagai tempat pesemaian, sedangkan yang lain sebagai benih/;yang satu bersifat lokla, sdangkanyang lain bersifat mondial. Dua model visi ini berinteraksi dalam kehidupa norang Kristen desa. Keduanya dihayati dalam level yang berbeda dan khas. Visi primal-asli membentuk basis, petunjuk, norma sehingga yang eklesial dapat beroperasi. Sedangkan visi Yahudi-Kristen menghubungkan basis primal asli dengan pengalaman historis Yahudi-Kristen.Dunia simbolik (mitos, dll) merupakan manifestasi paradigma dasar, religiositas dan visi prima asli. Implikasi teologis dari tesis-tesis di atas adalah sebagai berikut:
Allah mewahyukan diri lebih dari satu tradisi. Dan tantang kita sekarang bagi Prior adalah bagaimana menjadi pendengar yang baik (to be a good listener), melihat dan mencari kehendak Allah termasuk dalam kebijaksanaan visi-primal asli. Kebenaran dan kebaikan Allah bagai benih yang baik yang ia taburkan di tanah-tanah yang subur, termasuk di tanah agama primal-asli.
Dalam konteks Gereja Asia, nampak sebuah shift. Kalau Gereja Barat menjadikan teologi sebagai science, maka Gereja Asia mengembalikannya lagi pada gagasan teologi gereja perdana, yakni sebagai kebijaksanaan/sapientia.
Agama Asli dan Sotereologi (Bab III: Penderitaan sebagai locus theologicus)
Terinspirasi oleh refleksi teologis Yewangoe tentang situasi penderitaan dan kemiskinan di Asia, Jhon mansford Prior berusaha menempatkan pesan seterologis agama primal dalam menanggapi realitas kemiskinan dan penderitaan yang merupakan realitas sehari-hari orang Asia dan dunia ketiga seluruhnya. Agama suku selama ini dianggap tidak membawa pesan setereologis sebagaimana yang pernah diyakini Aloysisus Pieres Meski agama primal sangat plural di Nusat Tenggasra, toh ada satu kesamaan yang mereka gemakan sehubungan dengan penderitaan: penderitaan berasal dari dewa-dewa akibat kesalahan manusia. Untuk memperoleh kelepasan dari derita itu, orang biasanya mempersembahkan korban (lazimnya penyembelihan binatang, ternak). Ini menggaris bawahi pandangan agama primal tentang dunia yang sifatnya sistemik (yang melihat realitas yang satu baik kodrati, alami, maupun adikodrati dalam satu jalinan relasi; bukan realitas yang berdiri sendiri lepas dari yang lain –cf. pandangan dunia Barat yang sifatnya mekanistik) Sisi sotereologis inilah yang sesungguhnya membantu kita melihat bagaimana agama primal dengan segala kearifannya menjadi pesemaian bagi benih Ke-Kristenan atau ke-Islaman yang tumbuh di sana. Paradigma keselamatan penting dipakai untuk membaca dan menilai masing-nmasing agama, khususnya agama primal beserta ungkapan-ungkapan teologisnya.. (teologi scientia ke teologia sapientia).
Sehubungan dengan sotereologi tadi, Yewangoe menggaris bawahi bagaimana Gereja asia ditantang untuk menjawab dua masalah fundamental itu, sehingga gereja Asia tidak hanya sekedar gereja-gereja di Asia tetapi juga Gereja dari Asia. Refleksinya sampai pada pertanyaan kritis ini: apakah memang tologi-teologi Kekristenan mampu memberikan jawaban yang lebih memadai terhadap realitas penderitaan dan kemiskinan ketimbang yang telah diberikan oleh agama-agam Asia?. Satu tantangan lain yang lebih mendasar adalah bagaimana teologi dikembangkan dalam konteks kebijaksanaan local; bagaimana teologi salib, teologi solidaritas Allah terhadap penderitaan dan kemiskinan manusia (orang tersisih) dibahasakan lewat teologi lokal , misitk, mitos (cerpen yang berangkat dari situasi hidup sehari-hari, arsitektur, rumah ibadat.) ; teologi dikembangkan pula dalam keberpihakkan terhadap orang kecil atau orang tersisih. Itulah paradigma teologi yang lebih menjadi sapientia ketimbang scientia; bercorak praksis ketimbang abstrak (tenggelam di tegah kaum tertindas, lalu direfleksikan dan kemudian menjadi aksi.)
Teologi akan menjadi lokal kalau ia berteman dengan sosiologi, antropologi. Basis teologi lokal adalah peristiwa sehari-hari orang kecil; dalam pengalaman jemaat yang sudah menyatu dengan situasi hidupnya, dengan masyarakat tersisih, dengan kearifan lokalnya.
Samudera raya dalam sebutir embun (Bab IV)
Jhon Mansford prior menangkap kesan seolah-olah dunia asli Indonesia Timur sedang beralih lansung dari dunia pra-modern ke dunia pasca modern tanpa melewati fase modern seperti yang ditempuh negara-negara Barat selama tiga ratus tahun. Tampaknya word view primal asli Indonesia Timur dan word view pasca modern teknokratik mondial mudah tergabung, kendatipun yang satu bersifat total sedangkan yang lain bersifat fragmentaris.
Upaya gereja untuk menginter-kulturasian dirinya dalam kebudayaan setempat tidak dapat dilepaskan dari arus gejala zaman. Dunia yang sedang mengalami suatu masa yang sungguh menantang di mana hampir semua bidang ada kemajuan yang berlangsung pesat.
Ada dua pandangan pokok yang berbeda tentang alam semesta dan semua unsur di dalamnya:
1. Pandangan mekanistik, di mana alam semesta ibarat mesin yang terdiri dari bermiliar-miliar komponen masing-masing bersifat otonom. Melalui pengetahuan (sains) sesuatu yang ada di alam ini dapat dianalisis dan dipahami sehingga akan nampak bahwa dunia dapat dikuasai oleh manusia. Pola ini memungkinkan berkembangnya industralisasi dan teknologi. Namun di satu sisi ternyata perkembangan itu mengakibatkan kerusakan alam seperti pencemaran lingkungan, pengurasan hasil bumi yang tidak bertanggung jawab, tenaga manusia diganti dengan tenaga mesin, dan masih banyak lagi akibat negatif lainnya. Menurut Prior, pola ini yang dipakai di Barat. Pengetahuan-pengetahuan baru sering mempertanyakan teori-teori lama dan memajukan teori-teori baru yang bersifat sementara atau yang disebut Thomas Kuhn sebagai pergeseran paradigmatik. Tetapi kemajuan pesat zaman ini tidak selalu meyakinkan karena nyatanya tidak hanya membawa dampak positif tetapi juga negatifnya. Misalnya Amerika dengan modernisasi menciptakan sejumlah bom kimia yang mampu menghanguskan bumi dan ciptaan lainnya, dan juga tidak sedikit penyebab kematian kaum muda diakibatkan oleh penembakan dan virus HIV-AIDS yang merajalela. Dalam penelompokkan world view oleh John Prior pola mekanistik ini termasuk dalam pandangan kelereng, di mana masing-masing unsur dalam realitas atau tiap-tiap makhluk bersifat otonom, terpusat pada diri dan tidak mempunyai hubungan hakiki dengan yang lain. Segala sesuatu terlepas satu sama lain.
2. Pandangan sistemik, mencoba memahami semua bentuk kehidupan termasuk alam semesta secara menyeluruh sebagai satu keseluruhan, dalam proses saling bergantung, di mana unsur-unsurnya tidak bertindak sendiri-sendiri tetapi selalu saling berkaitan demi kebaikan keseluruhan berdasarkan prinsip saling membutuhkan. Jadi pola sistemik menggambarkan satu organisme atau satu sarang. Menurut Prior, pola inilah yang kiranya cocok dengan pandangan primal Nusa Tenggara. Sedangkan dalam pengelompokkan world view termasuk dalam pandangan laba-laba di mana masing-masing realitas/makhluk terdiri dari jarinan hubungan yang kait mengait dalam jaringan-jaringan yang serupa pada satu kompleks. Di sini terdapat dua sistem utama yaitu uniter atau tertutup (ontokratik) dan kompleks atau terbuka (teokratik). Pandangan primal pada umumnya dianggap ontokratik karena dunia dipandang seturut satu pola yang bersifat tetap serta wajib dan jaringannya bersifat hakiki. Dunia asli NTT sendiri tidak memandang bahwa tiap-tiap makhluk bersifat otonom, terpusat pada dirinya sendiri dan tidak punya hubungan hakiki dengan yang lain, tetapi terdiri dari sejumlah hubungan atau jaringan. Keseluruhannya merupakan satu sistem inklusif dengan sila-sila dasar atau pola bertindak yang berlaku untuk keselurohannya. Secara intrinsik segala sesuatu bersifat rohani atau sakral – Yang Ilahi dan Yang Duniawi tidak boleh dipisah-pisahkan. Jadi unsur trasenden terungkap dalam unsur yang sama, dan tidak ada hierarki yang jelas dan pasti dalam makhluk-makhluk manusia (mis. manusia tidak dapat menata dunianya dengan seenaknya). Doa dipanjatkan kepada Yang Trasenden dan Yang Imanen yang menjiwai seluruh sarang dan sistem. Allah berhubungan dengan alam semesta seperti jiwa dan badan yang tidak dapat terpisah. Pengetahuan keagamaan bersifat intuitif, mistik dan langsung seperti para nenek moyang yang mengatakan demikian, “adat kami begitu.”
Untuk menempatkan agama Kristen ke dalam word view asli Nusa Tenggara, pada dasarnya lebih dekat ke dunia Alkitab dan dunia Palestina pada masa-masa biblis. Menurut John M. Prior, pandangan asli wilayah Nusa Tenggara berakar pada visi primal perjalanan para leluhur. Dengan mendengarkan mitos serta legenda, atau memperhatikan struktur serta proses masyarakat asli atau mempertentangkan norma serta nilai budaya setempat, maka kita masuk ke dalam hati masyarakat, hingga hasratnya terpendam. Dalam hasrat itulah kita menemukan kembali keinginan terdalam yang terungkap dalam warisan hidup manusia. Oleh karena itu kita perlu menjadikan warisan leluhur sebagai milik kita dalam generasi sekarang.
Pandangan mistik Nusa Tenggara
Dalam satu rumah adat sederhana seluruh dunia terungkap. Dunia kosmik mistik di mana terdapat integrasi dan keseimbangan antara manusia dan Yang Ilahi, antara kehidupan sehari-hari dan kehidupan sakral, antara pola rasa dan pola berpikir, antara cara berpesta dan tatanan ekonomi, antara pandangan kultural dan keinsyafan spiritual, antara pencarian kebajikan dan usaha akan jalin relasi, antara syair berbentuk peribahasa dan ketetapan hukum, antara ungkapan keindahan dan secercah kebenaran, antara pengalaman sehari-hari dan keinsyafan yang kokoh, antara fantasi yang kreatif dan formulasi yang masuk akal, antara gaya menjawab secara emosional dan skala penilaian sosial, antara taat pada tradisi dan fleksibilitas dalam pelaksanaannya, antara kerangka spekulatif bagaikan penuntun dan batas-batas praktis dalam hidup sehari-hari, antara unsur pasif dan unsur berjuang, antara sikap pasrah dan keberanian yang menantang, antara kebijakan kontemplatif dan tingah laku penuh perhitungan, antara norma moralitas yang fungsional dan keadaran akan roh yang senantiasa hadir. Dapat disimpulkan bahwa seluruh samudera raya terungkap dalam sebutir embun atau dengan kata lain keseluruhan tercakup dalam sebutir. Berikut ini adalah gambaran rumah adat Lio yang mencoba menunjukkan unsur keseluruhan dalam sebutir tersebut atau sebagai tafsiran atas realitas:
· Sepasang batu, di mana yang lebih tinggi melambangkan pria sang penghubung langit dan bumu sedangkan yang agak rendah melambangkan perempuan, tempat persembahan kepada para leluhur
· Atap, terbuat dari alang-alang, menjulang dari langit ke bumi dan tanpa jendela, menghubungkan liru dan tana sekaligus membagi dunia luar dan dunia dalam serta terang dari kegelapan.
· Keduabelas tiang, tingginya l.k 1 meter dari tanah, tiap tiang berdiri di atas tanah yang diratakan.
· Ruangan manusia, ditempatkan di atas tiang-tiang dasar. Balok-balok tidak bersambungan dengan tiang-tiang dasar di bawahnya atau dengan balok-balok atap. Pada bagian bawahnya (kolong rumah) menjadi tempat hewan khususnya babi dan ayam. Babi melambangkan dimensi kehidupan manusia yang mengikatnya dengan bumi, tanah; unsur makhluk dunia, kesuburannya, perjuangannya untuk hidup makmur. Sedangkan ayam
· Ruangan langit, berada di bawah loteng, di atasnya ditempatkan dua tiang panjang, mangu tempat diletakkannya bubungan atap sebagai simbol sumber kehidupan yang mengalir dari generasi ke generasi melalui para ibu dan anak perempuan.
· Tiga ruangan vertikal, yaitu terdiri dari ruangan bumi, ruangan manusia, dan ruangan langit. Masing-masing berdiri sendiri namun terbuka (‘sadar’ bahwa ada yang lain)
· Tiga ruangan horisontal, terbagi dari depan ke belakang rumah yaitu bale-bale (mage-lo’o), tempat untuk istirahat sejenak dan menarik napas; ruang tengah (mage-ria), tempat untuk menerima tamu, pembicaraan keluarga, dan berbagai ritus berhubungan dengan pertanian, penentuan belis, dan perundingan sesudah kematian; dan one’ adalah ruangan paling belakang dan gelap sebagai rahim rumah. Masing-masing bagian diletakkan pada sepasang tiang dasar.
Manusia yang menafsir pengalaman hidupnya
Para leluhur menetapkan adat yang ditafsirkan secara kretif oleh keturunananya pada setiap generasi. Setiap kejadian seperti penyakit, peristiwa alam disebabkan tingkah laku dan ulah manusia, baik yang masih hidup, roh leluhur, dll memainkan peranan dalam kehidupan anak-cucunya. Jadi kalau manusia mau hidup aman, makmur, atau hendak mencapai tujuan hidupnya mesti hidup selaras dengan alam yang ditatanya sendiri melalui adat kebiasaannya. Maka yang menjadi penekanannya di sini adalah manusia sebagai pelaku yang aktif dan kreatif, di mana seluruh kosmos dipengaruhi oleh tingkah lakunya.
Memasuki Rumah Batin (Bab V)
Bagi Prior, satu cara untuk menyerap ke dalam dunia masyarakat kecil dan menghayati simbol-simbol kebudayaan ialah bersemedi dan membiarkan tata simbol budaya menjadi ungkapan hidup batiniah. Setiap simbol atau rumpun simbol merupakan tali penghubung untuk menarik daya potensi dari kegelapan batin menuju terang kehidupan sehari-hari. Ada sejumlah sumber simbolik yang dapat diambil dari alam, khasanah kebudayaan setempat, ceritera rakyat atau bahkan cerita Alkitab. Dalam meditasi simbolik ini nalar dilepaskan, perasaan hati dan tingkah laku harian ditinggalkan sehingga terfokus pada simbol karena bahasa simbol dapat mewahyukan seseuatu. Dalam hal ini tidak sulit untuk mengintegrasikan Kekristenan ke dalam agama primal Nusa Tenggara (Lio) karena hampir seluruhnya diwarnai dengan simbol. Di sinilah nampak adanya penyatuan dan harmonisasi antara kekristenan dan agama primal yang nampak dalam etos religius.
Di Balik Bayang-bayang dan yang Tersamar (Bab VI)
Etos religius diungkapakan dalam kerangka kayu, dinding bambu dan alang-alang. Tiada patung-patung batu yang menjangkau selama berabad-abad. Tiada monumen guna menegakkan undang-undang dan hukum untuk generasi mendatang. Agama orang Lio diperuntukkan bagi orang-orang beriman teguh yang mengungkapkan imannya dalam kefanaan barang-barang yang rapuh. Iman tidak dibentuk dalam batu yang bisu, tetapi dalam hati seorang anak yang rela mendengar dan belajar, mengalami dan melintasi tradisi yang hidup, berubah dan kreatif dalam ungkapan dan legenda, dalam nyanyian dan tarian, dalam kewajiban dan hukum. Kebudayaan akar rumput merupakan warisan-warisan kebijaksaan religius bergantung pada keyakinan orang tua dan keterbukaan anak. Iman semacam itu berhadapan dengan tantangan, tidak membutuhkan penelitian sebagai jaminan yang mungkin melestarikan kebudayaan religiusnya seperti monumen dan tontonan yang memisahkannya dari keluarga dan arus hidup.
Bagi orang Lio paradoks dalam hidup direfleksikan dalam merekahnya fajar harapan, dalam sengatan matahari di siang hari, dalam kelembutan sinar rembulan. Kegetiran hidup manusia nampak dalam kerapuhan rerumputan dan pakis-palma. Bagaimanapun juga kesulitan kini dan di sini, kejernihan dari yang transenden terungkap sekaligus dalam visi integrasi antara tradisi Kristen dan warisan leluhur. Ada integrasi dan harmoni tanpa penolakkan atau pencampuran antara manusia dan Allah, badan dan jiwa, keseharian yang sakral, pola perasaan dan pola pikiran, cara menjalankan perayaan dan cara menjalankan kegiatan ekonomi, landasan kultural dan spiritual, pencarian kebijaksanaan dan pencarian kekudusan, bentuk pemahaman dan relasi, seni puitis dalam ungkapan dan rigorisme dalam hukum, ekspresi keindahan dan pandangan sekilas tentang kebenaran, pengalaman sehari-hari dan wawasan yang sedang berlangsung, imajinasi kreatif dan rumusan penalaran, cara tanggapan emosional dan rancangan nilai-nilai sosial, kesetiaan pada adat dan fleksibilitas dalam penerapannya, kerangka spekulatif sebagai panduan dan ikatan-ikatan praksis dalam hidup dari hari ke hari, pasivitas dan perjuangan, penerimaan dan tantangan, kebijakan kontemplatif dan tingkah laku sehari-hari, moralitas duniawi dan kesadaran akan roh yang selalu hadir. Ada integrasi spontan yang muncul antara rangkaian kebaktian gereja universal dan lingkaran musim pertanian, hari-hari raya liturgis dan devosi musiman kepada orang-orang suci, inkarnasi Kristus pada hari Natal dan Kristus yang bangkit pada minggu Paskah, kesuburan roh waktu panen dan kesuburan Maria waktu menanam, Bapa yang trasenden dan ibu yang kreatif. Gereja sedang bertumbuh di antara masyarakat Lio adalah lahan tempat Injil dipelajari sekaligus ditafsir menurut kedalaman intuitif, di mana masa lalu dihadirkan kembali, masa sekarang dirayakan dan masa depan menjadi sebuah penantian.
Orang-orang Lio telah menciptakan kebudayaan religius yang rapuh, tetapi mereka memiliki iman yang kokoh, iman kaum pejuang dan tertindas, di mana kemanusiaan yang terluka mendapat penyembuhan dan dibawa pada harapan baru. John Prior pun akhirnya mengakui: “Saya datang untuk sebuah penginjilan dan menemukan diriku telah terinjili melalui kemurnian pandangan religius-kultural dan kerapuhan masa kini yang tak pasti. Orang Lio membuka batin saya, musim berganti musim, hambatan demi hambatan, untuk menemukan kembali roh yang setia menanti dalam batin dan menatap kemahabesaran Kristus yang mendesak kita untuk terus melangkah maju.
DARI PEMENGGALAN KEPALA MENUJU KEMBALINYA SI ANAK HILANG:
Penginjilan dalam Perjumpaan dengan Agama-agama Asli (Bab VII)
Menurut Prior, perjumpaan antara kekristenan dengan agama asli di Indonesia Timur membawa dampak destruktif maupun kreatif. Perjumpaan itu membawa dampak destruktif ketika ia merusak struktur dan institusi kebudayaan agama asli lokal. Di dalam proses pengrusakan itu, kehadiran Gereja, juga hidupnya, menjadi bagian dari suatu proses sosial, ekonomi, dan politik yang lebih besar. Perjumpaan itu terjadi sebagai suatu bentrokan kebudayaan, politik, ekonomi dan sistem agama serta pendangan hidup.
Untuk lebih jelasnya Prior memaparkan secara lebih rinci baik elemen-elemen perjumpaan yang merusak maupun yang kreatif.
Pemahaman Prior akan perjumpaan yang destrukrif dirumuskannya dalam pernyataan-pernyataan simbolis seperti:
- Penginjilan sebagai Pemenggal Kepala
- Jembatan: dari dunia Luar Masuk ke dalam Desa
- Sekolah: jalan dari Desa Menuju Dunia Luar
- Bangunan Gereja: Bentrokan dengan Dunia Luar
Kesimpulan dari perjumpaan yang destruktif antara agama asli dengan dunia Kristen dapat dimengerti dalam kerangka seperti ini. Dalam isu tahunan penculikan kepala anak, sikap dasar masyarakat terhadap dunia luar, modernisasi dan kekristenan bersifat ambivalen. Pengembangan dari luar (modernisasi, globalisasi) disambut dengan baik, namun dirasakan sebagai sesuatu yang destruktif. Gereja Katolik dipandang sebagai perintis yang memperkenalkan dunia modern masuk ke Flores. Ini menjadi suatu persoalan problematik Karena institusi Gereja dan sekolahnya, dengan pusat pelayanan kesehatan dan keterlibatan yang begitu luas di berbagai bidang sosio-ekonomi merupakan bagian dari dunia modern, yang senantiasa melahirkan isu tahunan yang menakutkan.
Akan tetapi, menurut Prior, kendatipun pengrusakan berkelanjutan terhadap agama asli yang rapuh itu, tetapi tidak semuanya merusak agama itu sendiri. Untuk menjelaskan hal ini Prior mengungkapkan saripati yang bertahan dalam dinamika perjumpaan itu. Poin pertama adalah dislokasi sedangkan pada poin kedua Prior melihat kebudayaan dan agama lokal sebagai protes.
Dengan dislokasi Prior bermaksud menunjukkan bahwa telah terjadi ragam perubahan dalam kehidupan masyarakat lokal. Nilai-nilai dan tradisi lokal telah kehilangan tempat berpijaknya di atas tanahnya sendiri oleh karena masuknya nilai-nilai dan kebiasaan dari dunia luar.
Ke Arah Suatu Perjumpaan yang Kreatif (Bab VIII)
Menurut Prior, di Nusa Tenggara, perjumpaan antar-iman mengikuti perjumpaan kehidupan. Perjumpaan ini dimulai dengan suatu perjuangan lokal dalam menanggapi suatu problem sosial yang mendesak. Dari upaya umum itu timbul refleksi iman, dan dari refleksi iman perorangan bergerak menuju refleksi antar-iman yang pada gilirannya bermuara pada suatu perjumpaan kehidupan yang diperbarui. Bagaimana hal ini dijelaskan?
1. Perjumpaan kehidupan
2. Refleksi iman
3. Perjumpaan antar-iman
Selanjutnya timbul pertanyaan baru yakni, siapa menginjili siapa? Apakah Gereja yang menyerap agama asli, atau agama asli yang menyerap Gereja?
Prior menjawabnya demikian….(lih. hlm. 94)
Demi memperjelas jawaban di atas Prior melemparkan satu pertanyaan yang kemudian dijawabnya dengan sangat baik. Pertanyaan itu adalah, penginjilan yang bagaimana yang diterapkan dalam perjumpan dengan agam-agama asli?
Jawaban: (lih hlm. 95-97)
Gereja Pusat, Gereja Pinggiran: Siapa yang Menentukan Jati Diri Jemaat? (Bab IX)
Menurut Prior dalam menghadapi tema jati diri Kristiani, kita perlu menelaah proses pemisahan antara adat dengan agama, antara praktik dengan kepercayaan, antara agama dengan negara, pusat dengan pinggiran, kota dengan kampung, keterikatan pada masa lampau dengan arah gejala ke masa depan. Hasilnya? Jemaat-jemaat Kristen Katolik dan Reformasi di Indonesia memiliki identitas ganda: gereja rakyat mengungkapkan jati dirinya sebagai masyarakat sederhana dalam kontras dengan adat dan modernisasi. Mereka tidak berdaya menghadapi arus luar namun berusaha mempertahankan identitas lokalnya dengan menganut agama Kristen (atau Islam). Sementara itu, lembaga gereja formal mengungkapkan jati dirinya dalam kontras dengan agama mayoritas dan administrasi negara.
Jati diri lembaga jemaat tersingkap dalam upacara-upacara kebaktian dan simbol-simbolnya. Identitas jemaat terungkap dalam loyalitas kepada jemat atau paroki (lokasi); dalam rumah ibadat yang megah (bangunan); dalam tanah: tempat ziarah; dalam kota: pusat jemaat/paroki dan pusat gereja/keuskupan dengan kantor sinode/katedralnya; dalam batas: terutama batas antara siapa yang boleh turut salam Perjamuan Tuhan/Ekaristi dan siapa yang tidak.
Dalam hal ini struktur gereja dengan kebaktian formal dan politik sosialnya sedang menyesuaikan diri dengan arus modernisasi, sedangkan umat kecil yang tercecer di antara sekian lingkup budaya telah menginkulturasikan diri pada lingkup-lingkup lokal yang diombang-ambingkan arus zaman. Batas identitas antara agama dengan adat, kebudayaan setempat dengan kultur nasional, antara agama dengan politik, antara rasa keterikatan dengan momentum gerak maju, tidak sama dari wilayah ke wilayah, maupun dari peristiwa ke peristiwa. Karena agama formal telah masuk kategori modern, maka orang yang tidak beruntung dari dunia modern perlu mengadakan upacara dan menyatakan kepercayaannya terlepas dari wewenang agama resmi. Hasilnya: gereja yang berwajah dua.
Sumbangan Agama terhadap pembangunan NTT (Bab X)
PriorAgama baik dalam pengertian sebagai lembaga social maupun sebagai pengungkapan tata nilai transenden dan imanen memberi sumbangan yang tidak sedikit antara lain:
1. mendengar rakyat, memandang dunia dari pihak rakyat, memahami dan mengalami dunia seperti yang dipahami dan dialami orang kecil.
- menyadari diri dan rakyat seturut pola timbal balik, menyadarkan segala unsur dalam kehidupan yang menindas, menekan, menghambat cita-cita dan nilai-nilai kemanusiaan.
- dalam proses penyadaran timbal balik tersebut akan menjadi jelas di mana letak akar-akar masalah sosial.
- dengan cara demikian, masyarakat menjadi semakin mampu mengadakan seleksi problema dan menentukan sendiri strategi: apa yang mungkin dan apa yang belum mungkin; apa yang utama dan apa yang sekunder.
- sumbangan agama terhadap pembangunan berdasar pada satu wawasan: bahwa setiap perjuangan kecil-kecilan berkaitan dengan upaya perjuangan secara menyeluruh: demi membebaskan rakyat dari segala bentuk tekanan.
- wadah yang paling cocok untuk mengadakan proses penyadaran adalah kelompok-kelompok basis masyarakat.
- bentuk penyadaran timbal-balik yang dijalankan terus-menerus perlu dilaksanakan secara sistematis, misalnya melalui proses bertahap seperti analisis sosial dan analisis sosio-budaya.
Agama Asli dan Sekularisasi (Bab XI)
Dunia primal asli di Nusa tenggara kelihatan terbagi-bagi, dahulunya menjadi kebanggaan para ketua adat kini mulai tersisih dari kepentingan umum bahkan terancam punah karena kaum mudanya tidak berminat padanya. Agama primal ini kini tidak lagi menjadi pemersatu dalam kehidupan masyarakat, agama primal sudah terpengaruhi pembangunan, pendidikan, dan lain-lain.
Untuk melihat semua gejala itu, dari sudut kebudayaan, Mansford meminjam pendekatan Turner (dengan paradigma dasarnya: mengungkapkan hal yang paling bernilai sehingga lamban mengalami perubahan). Paradigma dasar kebudayaan nusa tenggara menurut Mansford belum tentu sudah bergeser tetapi masih bertahan, hanya tingkah laku hidup harianlah yang rentan terhadap pengaruh perubahan sosio cultural.
Untuk meninjau sudut agama, pendekatan Panikkar cukup membantu. Kita diingatkan oleh Mansford bahwa perlu diadakan dialog antara agama primal asli dengan agama Kristen Barat, dan dialog semacam itu harus terjadi pada level paradigma dasar. Saat dunia Kristen Barat kehilangan akar primal aslinya di dunia yang mekanis teknologis (hasil modernisasi), maka agama primal asli Nusa tenggara dapat memberikan sumbangannya. Untuk melakukan semua itu kita dibantu oleh Yohanes Salib yang mengajarkan keberanian untuk memulai dialog, dan sejumlah hal lainnya yang memampukan kita menuju kebersamaan dengan itu tradisi-tradisi cultural saling menyuburkan dalam hati kita dan dalam karya bersama, terdapat interaksi yang dinamis antara individu dan kolektif (semedi).
Sekarang kita akan terfokus kepada kebudayaan, iman dan sekularisme. Untuk unsur kebudayaan: di nusa tenggara sebelum modernisasi kebudayaan lokal bersifat spiritual (segala sesuatu dianggap sebagai penampakan dari Yang Ilahi) dan material (kehidupan didukung oleh siklus pertanian). Pengambilan keputusan dilakukan bersama-sama. Pandangan sunia tradisional seperti ini terbuka akan sekularisasi. Dalam masyarakat sekularisasi sperti itu para ketua adata menjadi suka memerintah bukannya berunding bersama. Karena itu gereja mencoba mengambilalih peran dalam memberikan kesadaran akan jati diri dan martabat manusia. Peran ini sebelumnya dijalankan oleh suku-suku.
Struktur sosial budaya telah kehilangan pengaruhnya ketika modernitas menjadi “mitos” yang mendominasi. Kendati demikian nilai-nilai pokok kosmik tetap ada, misalnya ketika menghadapi saat kritis seperti kematian, bencana alam maka kebudayaan kosmiklah yang berbicara. Generasi muda yang cuek terhadap kebudayaan kosmik maka sekarang kebudayaan lokal sekuler mengungkapkan diri. Tidak ada lagi ritual-ritual, peribahasa, mitos dan lain-lain.
Nilai kultural proses modernisasi (Bab XII)
Agama Kristen Barat membawa masuk dunia modern ke Indonesia Timur melaui sekolah-sekolah, rumah askit, dan sejumlah karya social lainnya, semakin meluasnya ekonomi pasar yang juga menyebabkan pergeseran paradigma cultural. Mobilisasi, urbanisasi, komunikasi membuat semakin banyak orang tercabut dari akar-akar cultural dan bahasa mereka. Segelintir orang saja yang berani muncul dari kelompok primal itu sebagai pengusaha (setelah berkenalan dengan modernisasi) tetapi sebagian besar lainnya terdesak ke pinggiran ekonomi. Pasar lalu diambilalih oleh orang-orang yang datang dari luar. Hal lain yang mengalami perubahan adalah pertanian: berubahnya pola pertanian yang organic menjadi mekanistik. Dimensi tatanan kosmik diganti dengan individu yang otonom yang selalu berjuang untuk kepentingan pribadi. Orang tidak lagi berani mengungkapkan pikiran (hanya orang yang telah mengenyam pendidikan formal saja yang berani). Memang sekularisme telah membuat orang tidak berani mengungkapkan diri.
Melihat segala perubahan yang tentunya membawa banyak dampak itu, Mansford lalu menyatakan bahwa modernisasi berarti marginalisasi. Modernisasi yang dirintis oleh Kristen Barat membawa keterbukaan kepada seluruh dunia tetapi itu membuat kebudayaan kosmik yang rapuh menjadi marginal. Modernisasi membawa keberuntungan bagi sedikit orang saja tetapi semakin menyebarkan kemiskinan, yang kuat bertahan.
Bagaimana masyarakat kosmik masa lalu it |