BIJI SESAWI ITU TELAH MENJADI TANAMAN BESAR
Para anggota Xaverian mengikrarkan kaul yang khas sebagai abdi misi dan menyerahkan diri kepada Bapa yang membuat mereka turut serta dalam perutusan Yesus Kristus, Putera-Nya.
Caritas Christi Urget Nos, Kasih Kristus mendorong kami, demikian seruan para Misionaris Xaverian ketika menginjakkan kaki di Indonesia. Jauh dari tanah airnya, entah itu Italia, Mexico, Brasil atau wilayah lain, hanya kasih Kristuslah yang membawa mereka ke Indonesia. Semangat itulah yang ditanamkan Mgr. Guido Maria Conforti, pendiri Serikat Misionaris Xaverian (SX).
Ia lahir di Parma, Italia, 30 Maret 1865. Panggilan imamat Conforti mulai bersemi sejak memandang Yesus tersalib pada tahun 1876. Terkesan dengan pengalaman St. Fransiskus Xaverius, waktu di seminari, Guido bercita-cita menjadi misionaris. Tapi, dua konggregasi dimana dia melamar menolakknya. Akhirnya, Conforti melanjutkan study dan panggilannya menjadi imam projo.
Begitu ditahbiskan 22 September 1988, tugas pertama yang diembanya adalah menjadi wakil rektor di seminari. Meski sibuk dengan pelbagai tugas, semangat dan tekadnya untuk menjadi misionaris tak padam. Masalah kesehatan sebelum menjadi imam nampaknya tak menyurutkan keyakinan Conforti menjadi misionaris. memang, ternyata Tuhan menghendaki lebih dari itu , yakni sebagai Bapa para misionaris.
Walau tak dapat pergi sebagai misionaris, Conforti mempersiapkan para misionaris yang akan mewartakan Injil. Pada perayaan St. Fransisikus Xaverius, 3 Desember 1895, Conforti mendirikan Serikat Misionaris Xaverian. St. Fransiskus dijadikannya sebagai sumber inspirasi dan pelindung. Serikat baru ini mempunyai hanya satu tugas khusus dan khas: memperkenalkan Kristus kepada bangsa-bangsa yang belum mengenal-Nya. Daratan Cina adalah ladang pertama untuk meneruskan karya St. Fransiskus Xaverius yang tak berkesampaian berkarya di sana.
Pasa awalnya, 22 pemuda bergabung dengan kelompok misionaris. Merela dibina dalam sebuah rumah di Borgo Leon d’Oro. Untuk pendidikan akademisnya , mereka belajar di SMA dan teologi di seminari Keuskupan setempat. Empat tahun setelah kelahirannya, dua orang misionaris mulai diutus Conforti ke Vikariat Apostolik Shansi Utara, Cina. Tapi perang Boxer memaksa mereka menghentikan kegiatan pada tahun 1901. Setelah perang berakhir, empat misionaris lain dikirin ke sana. Kali ini ke propinsi Honan Selatan . Karya mereka berkembang pesat. Bahkan, pada tahun 1928, Mgr Conforti berkenan mengunjungi mereka, melihat dari dekat suka duka keadaan misi di Cina.
Tahun 1937, pecah perang antara Cina dan Jepang. Banyak misionaris yang ditawan. Usai perang dunia II, sejumlah misionaris baru dikirin lagi. Tahun 1948 mulai dibuka misi baru di Propinsi Kiang Si. Tampaknya penduduk Cina yang menderita akibat peperangan itu mulai terbuka pada rahmat Tuhan lewat misionaris Xaverian yang berjumlah sekitar 100 orang.
Sementara itu, angkatan perang Mao Tse Tung yang selama beberapa tahun sebelumnya berada di bawah kendali Chiang kai Shek mendapat angin baik. Antara 1949-1950 mereka berhasil menguasai Cina. Mulai saat itulah , orang komunis mulai menyerang setiap agama yang ada, khususnya Gereja Katolik. Tak sedikit orang Kristen yang dipenjara dan dibunuh. Para misionaris ditahan, disiksa, bahkan dipaksa diusir dari Cina. Bahkan, antara 1952-1954 semua misionaris Xaverian terpaksa meninggalkan negeri Tirai bambu itu.
Terdesak dari Cina, tak menyurutkan para misionaris Xaverian untuk tetap menghayati kharismanya. Mereka mulai merambah daerah misi baru: Jepang, Sierra Leone, Afrika Barat. Tahta Suci juga memberi kepercayaan kepada Serikat Xaverian untuk berkarya juga di wilayah Asia. Selain Banglades, pilihan jatuh pada Indonesia, tepatnya padang, Sumaterra Tengah yang saat itu termasuk Vikariat Apostolik Medan dan dilayani oleh imam-imam OFM Cap asal Belanda.
Pada tanggal 4 Juli 1951, untuk pertama kalinya delapan imam Xaverian tiba di Padang, Sumatera Barat. Begitu sampai padang, dua imam dikirim ke Bagansiapi-api, Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau. Selebihnya bertugas di Padang dan Bukit Tinggi. Semuanya di Sumatera Barat.
Pada tahun 1952 para imam OFM Cap ditarik ke Medan. Wilayah bagian Vikariat Apostolik Medan yaitu Sumatera Tengah sepenuhnya diserahkan kepada para Xaverian. Tak lama kmudian wilayah ini diubah statusnya menjadi prefektur Apostolik Padang dengan Mgr. Pasquale de Martino, sx sebagai Prefek Apostolik. Sementara itu, rombongan-rombongan misionaris Xaverian berdatangan. Mereka memulai misinya di Pekanbaru, Pasaman dan Mentawai.
Pada tahun 1954, Serikat Xaverian mulai berkarya di Kepulauan Mentawai. Di sini mereka menghadapi masyarakat yang masih terbelakang segala aspek kehidupannya. Pada umumnya mereka hidup ssebagai pemburu dan petani dengan pola berfikir yang masih sederhana.
Dalam waktu 10 tahun, dengan berkembangnya umat dan kebutuhan koordinasi, Gereja di Padang, sejak 3 Januari 1961, statusnya ditingkatkan menjadi Keuskupan Padang. Mgr. Raimondo Bergamin ditunjuk sebagai uskup. Selama itu, para Xaverian berkarya terpencar. Lama kelamaan dirasakan kebutuhan adanya rumah keluarga dimana setiap anggotanya dapat bertukar pikiran, saling mengungkapkan suka duka hidup dan karyanya. Tahun 1965, dibangunlah sebuah Biara Xaverian di Padang.
Sejak tahun 1970, para misionaris Xaverian mulai keluar dari keuskupan Padang. Seorang imam mulai berkarya di paroki Toasebio, Jakarta. Beberapa tahun kemudian di paroki Pluit, Pademangan, dan terakhir di Paroki Bintaro (1984). Pada tahun 1975, uskup Medan, Mgr. Van Den Hurk meminta bantuan Serikat Xaverian untuk melayani umat di Sumatera Timur. Kemudian tahun 1981, Uskup Sibolga, Mgr. Anicetus B. Sinaga meminta pula untuk melayani salah satu paroki.
|