TUBUH YANG RAPI TERSUSUN
(Misi Xaverian Menyiapkan suatu Gereja Lokal)
Minimnya tenaga imam kapusin di daerah Sumatra Tengah dan Utara, mendorong Mgr. Brans, Vikaris Apostolik Medan, mengundang para Misionaris Xaverian datang ke Indonesia. Tenaga-tenaga bantuan awal yang datang dari Cina dimaksudkan untuk membantu misi di Sumatra. Pada tanggal 24 Juli 1951, delapan misionaris xaverian yang terusir dari Cina tiba di Sumatra Tengah, wilayah seluas 132.959 Km2. Dua minggu sebelumnya mereka berangkat dari Hongkong.
Dari, situ delapan misionaris itu dibagi ke Bagansiapi-api, Padang dan Bukittinggi. Delapan Bulan kemudian, seluruh daerah Sumatra Tengah dipercayakan kepada mereka saja. Semua pastor kapusin ditarik ke Sumatra Utara, kecuali di Seminari yang baru ditarik 1954. Dengan demikian, terjadi pemisahan wilayah Sumatra Tengah dan Vikariat Apostolik Medan. Lahirlah prefektur Apostolik Padang yang dipimpin Mgr. De Martino ( 1953).
Sepuluh tahun pertama (1951-1961), dengan sedikit tenaga, sulit menata Prefektur Apostolik Baru.Ada 24 misionaris yang masuk, tetapi dua diantaranya meninggal dunia dan empat lainnya meninggalkan daerah. Prefektur Apostolik hanya di bantu P. Capra sebagai wakil merangkap ekonom dan pemimpin Xaverian. P. coconcelli ditunjuk sebagai kasnselir. Sedang seluruh tenaga diarahkan pada tiga medan baru yaitu Pekanbaru (1953) dan Mentawai (1954) serta untuk membuka kembali paroki Selat Panjang, Sawahlunto, Payakumbuh dan Padang Panjang.
Untuk menunjang karya kerasulan yang ada seperti sekolah, poliklinik dan menampung yang bakal menyusul, dibentuklah Yayasan Prefektur Apostolik Padang pada tahun 1954. Tujuannya untuk mengkoordinir dan membina karya pendidikan. Selain mendatangkan suster ALI dari Italia pada tahun 1957, karya kesehatan juga dibuka di Bagansiapiapi untuk membina dan merawat penderita kusta, poliklinik gigi di Pekanbaru (1955), dll. Kelak, semua karya ini selanjutnya dikoordinir oleh Yayasan Yos Sudarso.
Di samping karya itu, perhatian utama Xaverian adalah seminari yang dibuka kembali pada tahun 1956, Diasuh sendiri oleh Mgr. De Martino dibantu P. Spinabellli dan P. Patacconi, sarana itu digunakan untuk menggembleng calon imam diosesan. Gereja di Bukittinggi dijadikan tempat ziarah pada Santa M aria Ratu Rosari untuk seluruh Prefektur Apostolik Padang.
Pada dasa warsa kedua (1961-1970), dengan semakin betambahnya tenaga misioner yang dikirim ke Indonesia, medan karya dibagi dalam tiga dekanat atau zona: Sumatra Barat, Riau Daratan dan Mentawai.
Sedikit demi sedikit, diawali dengan pertemuan bulanan di tingkat zona dan beberapa kali di tingkat keuskupan, dibentuklah dewan persbiteral yang kelak menjadi dewan pastoral. Di tingkat paroki, untuk meningkatkan peran serta umat diadakan juga dewan pastoral, pada dekade pertama, P. Boggiani mendirikan Legio Maria di Padang (1954), selanjutnya P. Cocconcelli mulai bertindak pula sebagai delegatus untuk aksi kerasulan doa sekaligus karya kepausan.
Untuk memudahkan hubungan dan kerja sama antara paroki di dekanat Mentawai dan Padang, didatangkan kapal Santa Maria. Yayasan prefetur apostolik Padang berganti nama menjadi Yayasan Prayoga (1962) dan memulai dirintis pembentukan Yayasan Yos Sudarso untuk karya kesehatan. Lembaga sosial pun mulai dibentuk dan kelak akan menjadi yayasan Bina Sejahtera. Jabatan Wakil Prefektur apostolik diganti Vikaris Jenderal dan ekonom kelak akan menjadi admisnistrator ekonomi Keuskupan.
Penghapusan ius misionis pada tahun 1969 merupakan saat lelahiran de iure Gereja lokal. Serikat-serikat pun mulai berdiri sendiri dalam bentuk provinsi atau regio. Hal yang sama terjadi di keuskupan Padang dan Serikat Xaverian di Indonesia sejak 1970 dengan hubungan yang berbeda satu sama lain. Sampai sekarang, 11 kapitel menandai perjalanan Serikat Xaverian di Indonesia.
Keuskupan Padang dalam dasar warsa ketiga tetap dipimpin Mgr. Bergamin. Berbagai proyek besar dilaksanakan seperti pembangunan gereja, sekolah dan rumah sakit. Kebutuhan akan macam-macam delegatus, panitia, komisi mulai kentara. Atas desakan panitia pastoral dibantu oleh Sr. Bernardette SCMM, P. Ferrari menghidupkan panitia kateketik pada tahun 1976 yang kemudian dikembangkan P. Ciroi menjadi komisi kateketik keuskupan dan merangkap liturgi, musik liturgi, Alkitab, pembina pemuka umat. Selanjutnya, P. Coronese merintis komisi Komunikasi Sosial, P. Spina untuk komisi sosial ekonomi, dan P. Peccati untuk komisi kepemudaan.
Dasa warsa keempat dimulai pada tahun 1983, ketika ada penggantian pimpinan keuskupan dari Mgr. Bargamin kepada Mgr. Situmorang. Pada tahun 1993, berhasil diwujudkan persiapan sinode keuskupan perdana. Selama dekade ini, tatanan keuskupan semakin menatap dan lengkap, bahkan semakin sempurna lebih-lebih berkat kehadiran semakin banyak imam projo.
Kini benih itu semakin tumbuh dan berkembang demi pelayanan pada umat seluruhnya dan berkat peran serta awam yang sudah terasa sejak
|