. Uskup Gereja Lokal Parma
· Pendiri Serikat Misionaris Xaverian yang mewartakan Injil ke seluruh dunia.
Pada tahun itu juga konsilidasi Serikat Xaverian semakin mantap dengan berdirinya beberapa di seminari untuk pembinaan calon-calon misonaris. Guido Maria Conforti sadar, bahwa ia ditahbiskan menjadi uskup bukan hanya untuk Gereja lokal tetapi untuk seluruh dunia, maka ia ikut bekerjasama dengan pastor Paolo Manna untuk mendirikan Unio Misioner Bagi imam-imam Projo, guna menyegarkan semangat misioner dalam hati imam-imam Projo. Dialah ketuanya yang pertama.
Pada tahun 1928 ia mengunjungi para misionarisnya dan karya-karya mereka di Cina. Ia ingin menyaksikan sendiri karya dan situasi yang dihadapi oleh misionaris-misionarisnya yang mengabdikan diri di ladang Tuhan tanpa mengenal lelah.
Guido Maria Conforti baru berusia 66 tahun ketika dipanggil Tuhan pada 5 November 1931. Kemasyuran kesuciannya telah menghimpun umat Keuskupan Parma dalam jumlah yang luar biasa. Mereka datang untuk menangisi wafatnya dan mengiringi upacara pemakamannya. Sekarang ia beristirahat dalam Rumah Induk Serikat Misionaris Xaverian di Parma, rumah yang ia dirikan sendiri bagi misionaris-misionarisnya dengan modal warisan yang ia terima dari ayahnya.
Kemasyuran dan kesucian Guido Maria Conforti tidak terbatas pada Keuskupan Parma dan pada negaranya sendiri, tapi sudah meluas ke seluruh dunia. Imannya yang hidup terpancar dari segala perbuatan dan perkataannya. Kepercayaan penuh pada Penyelenggaraan Ilahi telah menjadi kekuatannya untuk menghadapi setiap situasi hidup, sedangkan cinta kasihnya yang tak terbatas dapat disaksikan semua orang.
Pada tahun lima puluhan rezim komunis menguasai daratan Cina . Gereja Katolik dan semua agama dilarang. Para misonaris Xaverian diusir dari Cina. Sebab itu akhirnya Serikat Xaverian mendapat ladang-ladang baru di Asia, Amerika dan Afrika.
Pada hari Minggu 17 Maret 1996 di Gereja basilik St. Petrus di Roma Sri Paus Yohanes paulus II dalam suatu upacara yang sangat meriah mengumumkan kepada dunia, bahwa: GUIDO MARIA CONFORTI ADALAH BEATO, yaitu saksi Kristus yang sejati yang patut dicontoh oleh Gereja sedunia.
HIDUP DENGAN PENUH IMAN
Guido Maria Conforti hidup selama enam puluh tiga tahun. Perjalanan hidupnya senantiasa diterangi oleh iman.
Ketika sedang mengunjungi para misionarisnya di Cina, terdengar dia berseru: “ Pada-Mu ya Tuhan, aku berharap. Aku tidak akan pernah dikecewakan.”
Ia ingin pergi ke daerah misi, meski pun kemungkinannya ditahbiskan menjadi imam saja sempat disangsikan, karena ia sakit-sakitan.
Ia mendirikan Serikat Misionarisnya dan mengutus dua orang misonaris yang pertama ke Cina, ketika pemberontakan Boxer sedang berkecamuk. Pengutusan itu berakhir secara tragis: Seorang mienggal akibat keadaan yang sulit dan lainnya kembali ke tanah air dan meninggalkan Serikat.
Tidak lama sesudah mendirikan Kongregasinya, ia harus meninggalkan Parma untuk menjadi Uskup Agung Ravenna. Selama dua tahun berikutnya ia mangalami banyak kesukaran dan susah payah sehingga melemahkan kesehatannya. Ia terpaksa berhenti dari jabatannya.
Tidak disangka-sangka olehnya bahwa ia sekali lagi dapat kembali berada di tengah-tengah para calon misionarisnya di Rumah Induk, sekalipun untuk waktu yang tidak lama, karena Sri Paus mengangkatnya menjadi uskup Parma.
Di Parma, ia menjuadi saudara dan pembawa damai bagi pihak-pihak yang saling bermusuhan selama huru-hara sosial yang terjadi setelah perang dunia I. Ia menjadi penengah dalam perselisihan. Di keuskupan ia adalah seorang “ gembala yang baik”. Ia mengungkapakan semangat kerasulannya dalam membimbing Serikat Misionarisnya dan dalam mendirikan serikat misioner para Klerus. Pada tahun 1928 ia mengunjungi para misionarisnya di Cina.
Pada akhir hidupnya ia dapat menyatakan: “ Imanlah yang selalu menjadi pedoman hidup dan pikiran saya. Iman inilah yang selalu hendak saya wartakan.. iman para rasul, iman gereja..Katanya pula, “ Saya akan menghadap Tuhan penyelamatku.” Kepada para misionarisnya ia menyerahkan warisannya, yakni “ tekad bakti untuk mewartakan Injil Kristus kepada seluruh dunia.”